

Senayan, Warta Kota
PDI Perjuangan mewaspadai upaya politisasi skandal Bank Century dengan memanfaatkan laporan Pusat Pengkajian Analisa Transaksi Keuangan (PPATK).
Upaya politisasi itu terlihat dari disebutnya kader PDIP yang juga Ketua Komisi XI DPR, Emir Moeis, sebagai penerima dana bail out Bank Century.
"Keterlibatan Emir Moeis tidak ada. Kami telusuri sejak merger pembentukan Bank Century, ternyata tidak ada nama Emir Moeis menerima dana bail out. Kami menduga isu ini diembuskan terus untuk mengalihkan persoalan pengusutan skandal Bank Century. Kami minta semua pihak tidak terprovokasi dengan isu ini," kata Gayus Lumbuun, Wakil Ketua Fraksi PDIP di DPR, Senin (15/2).
Berdasarkan penelusuran internal, kata Gayus, Emir Moeis memang menjadi nasabah Bank Century sejak tahun 2004. Rekening yang dimilikinya berupa rupiah dan valuta asing. Sebagai nasabah, Emir berhak menyimpan atau menarik uangnya di Bank Century. "Justru Emir Moeis bisa dikatakan sebagai korban skandal Bank Century," ujarnya.
Sementara itu, Emir dengan tegas menyatakan tidak tahu bahwa saat itu Bank Century bermasalah. Dia tidak pernah mendapat informasi dari Bank Indonesia, dan baru tahu setelah dibentuk Pansus Angket di DPR.
Menurut Emir, dia menjadi nasabah Bank Century dikarenakan lokasi bank tersebut sangat dekat dengan kantornya. Dia hanya menarik atau mengambil uangnya sesuai dengan yang disimpannya di Bank Century.
"Sejak ada skandal bail out, saya sudah tidak melakukan transaksi di bank tersebut," tuturnya.
Wakil Sekjen PDIP Mangara Siahaan menegaskan, pihaknya akan menyiapkan pengacara apabila memang kadernya tersandung kasus hukum.
Rumor keterlibatan Emir Moeis bermula dari beredarnya dokumen berjudul "Transaksi Keuangan Mencurigakan atas Nama ZEM". Inisial itu kemudian diidentikkan dengan Zederick Emir Moeis, anggota DPR dari Fraksi PDIP.
Dalam dokumen itu disebutkan, ZEM menerima setoran valas dalam jumlah besar secara tunai, namun tidak dicatat dalam buku bank. Setoran itu disebut-sebut berasal dari Kepala Divisi Bank Notes Bank Century, Dewi Tantular, yang saat ini masih buron. Dewi adalah adik pemilik Bank Century Robert Tantular yang saat ini tengah menjalani hukuman.
Sementara itu, ratusan orang dari beberapa LSM menggelar demonstrasi di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Mereka mendesak KPK segera menangkap anggota Pansus Bank Century dan anggota DPR lainnya yang diduga menerima aliran dana Century.
"Sebut saja beberapa yang terindikasi tercemar, yaitu anggota DPR berinisial ZEM yang berdasarkan temuan BPK menerima aliran dana siluman itu," kata koordinator aksi, Dani Kusuma.
"Kami menegaskan, hentikan transaksi politik oleh parpol pada kasus Bank Century. Bubarkan Pansus Century yang tidak memiliki keberpihakan kepada rakyat!" ujarnya.
Unjuk rasa tersebut mendapat pengawalan ketat dari kepolisian. Arus lalu lintas di Jalan Rasuna Said tidak sampai terganggu. (nir/akn)

