A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined index: Name

Filename: controllers/detil.php

Line Number: 51

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined index: Name

Filename: libraries/wkallfuncdetil2.php

Line Number: 125

:: Gurihnya Soto Santan Bogor
  • Selamat Datang
 
  • :  
  •   :  
  • Safari Rasa
  •   :  
Kamis, 25 Februari 2010
Gurihnya Soto Santan Bogor
Warta Kota/Dian Anditya Mutiara  
Dibaca : 127 kali     Komentar: 1

Bogor, Warta Kota

Bila berkunjung ke Kota Bogor, jangan lupa mencicipi gurihnya soto santan yang banyak dijajakan di sana. Makanan itu seolah menjadi makanan khas Kota Hujan. Rasanya yang istimewa akan membuat siapapun ketagihan dan ingin kembali mencicipinya.

Meski banyak pedagang yang menjual soto santan, tapi ada yang beda dari Soto Santan H Djadja yang terletak di Jalan Mawar, Menteng, Bogor. Meski bersantan namun kuahnya sangat encer.

Tempatnya sederhana, hanya menyewa seperempat halaman rumah seorang keturunan Tionghoa. Karena berada persis di pinggir jalan, supaya tidak terlalu berdebu, di sekelilingnya ditutupi kain panjang.

Uniknya lagi, si penjualnya menyiapkan makanannya di bawah. Hanya menggunakan dua meja kecil yang sebenarnya bekas pikulan yang sudah tidak dipakai. Konsumen bisa memilih meja pendek yang berhadapan langsung dengan si pedagang atau di meja yang tinggi.

Sebelum duduk manis, pengunjung diminta terlebih dahulu untuk memilih isi soto yang akan disantap. Ada dua baskom yang berisi potongan kikil dan daging. Semuanya diambil dari bagian kaki dan kepala sapi. Terkadang juga tersedia babat, hanya saja jumlahnya tidak terlalu banyak.

"Babat cuma kita sediakan pada akhir pekan, Sabtu atau Minggu. Karena tidak semua orang suka dan kurang baik buat kesehatan. Jadi hanya sebagai selingan saja. Itu pun karena ada permintaan dari beberapa pelanggan," kata Sakdik, penerus ketiga dari Warung Soto Santan H Djadja.

Di baskom disediakan bambu yang ujungnya diruncingkan, dengan panjang kurang lebih 10 cm, untuk menusuk daging dan kikil yang dipilih. Rata-rata pelanggan yang datang mengambil antara tiga hingga tujuh potong dalam setiap sajian sotonya.

Memang soto ini tidak dijual per porsi, tetapi per potong. Sepotong harganya Rp 3.500. Kikil tersebut diletakkan di dalam piring sehingga Sakdik tinggal memotong-motong kecil.

Selanjutnya diberi taburan daun seledri dan bawang goreng, baru kemudian disiram dengan kuah santan yang tidak terlalu kental. Sedangkan nasi putihnya disajikan di piring terpisah.

Tidak lupa juga diberi taburan emping melinjo atau emping jengkol yang sebungkusnya hanya Rp 2.000. Tapi sebelumnya Sakdik akan menanyakan pelanggan yang bersangkutan, apakah ingin memakai emping tersebut ataukah tidak.

"Karena ada pelanggan yang memang tidak suka atau memang tidak boleh makan emping dengan alasan kesehatan. Makanya saya selalu tanyakan dulu sebelum menaburkannya," ujar ayah tiga anak ini.

Tanpa penyedap rasa

Perlu diketahui juga, kuah santan soto ini tidak menggunakan bumbu penyedap rasa. Air kaldu rebusan dari kaki sapi sudah membuat kuahnya begitu gurih. Tapi bagi orang yang memang menyukai rasa asin, sepertinya kuah yang disajikan kurang begitu pas garamnya. Sebaiknya memang ditambah sedikit lagi garamnya.

Sebagai penyempurna kuahnya bisa ditambahkan cuka atau jeruk limau. Tapi semenjak dahulu, para pelanggan Soto Santan H Djadja hanya suka dengan tambahan cuka. Mereka kurang menyukai jeruk meski menimbulkan aroma yang wangi.  

Warung ini hanya buka pada pagi hari, biasanya pukul 06.00-10.00. Lewat jam itu, bisa-bisa tidak kebagian. Tapi itu juga tergantung situasi, terkadang kalau sedang sepi, hingga pukul 12.00 pun masih buka.

Sakdik mulai memasak kepala dan kaki sejak pukul 14.00 sehari sebelumnya. Untuk mendapatkan kikil yang tidak berbau, dibutuhkan pencucian dan pemasakan yang cukup lama. Karena tidak terlalu percaya kepada pedagang daging, Sakdik lebih memilih untuk membersihkan sendiri bagian kepala dan kaki sapi.

Pencuciannya bisa sampai tiga kali. Setelah itu barulah direbus kurang lebih tiga jam. Sedangkan untuk kuahnya dibuat dadakan sebelum subuh.

Setiap harinya, warung soto ini membutuhkan 12 kg daging dan kikil bagian kepala, 4 kg bagian kulit dan 4 kaki sapi. Pada akhir pekan kebutuhannya meningkat menjadi 17 kg.

Sedangkan untuk nasinya diperlukan 17-18 liter beras per hari, dan kelapa untuk santan 14-15 buah. Kelapa yang digunakan jenis tasik yang lebih wangi. Ketika kuah soto matang, memang agak kental.

Tidak masalah, karena beberapa pelanggan memang suka dengan kuah kental. Tetapi lama kelamaan kuah menjadi encer dengan sendirinya. (Dian Anditya Mutiara)

Share :                
A   A   A
Komentar Anda
Kamis, 1 Januari 1970
H Nandar
maknyus..pengen nyobain euy..
Beri komentar :
Nama
Email
Komentar
Kode
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
 
CLOSE[X]