

Pamulang, Warta Kota
DI antara teroris yang tewas ditembak Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-Teror Mabes Polri di Warnet Multiplus, Jalan Siliwangi dan Gang Asem, Kelurahan Benda, Pamulang Barat, Tangsel, Banten, Selasa (9/3), salah satunya dipastikan Yahya Ibrahim (YI), seorang lagi Dulmatin, dan lainnya belum diketahui identitasnya. Jika benar YI adalah Umar Matek, dan Dulmatin juga ikut tewas, maka pelarian kedua teroris yang dihargai 11 juta dolar AS (sekitar Rp 102,3 miliar) tersebut berakhir sudah.
Diduga Yahya Ibrahim adalah Umar Patek, tokoh teroris yang namanya tak bisa dipisahkan dengan Dulmatin. Begitu pula ketika nama Dulmatin disebut, selalu diikuti dengan Umar Patek. Keduanya adalah buron Pemerintah Indonesia, AS, Filipina, dan Australia sejak beberapa tahun silam.
Bersama Dulmatin, Umar Patek yang lahir tahun 1970 ini memiliki darah Jawa?Arab dan dituding bertanggung jawab dalam kasus bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang, termasuk 88 warga Australia, serta tujuh warga AS. Setelah peristiwa bom Bali 2002, keduanya diketahui kabur ke Filipina, bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf.
Sebagaimana Dulmatin, media Filipina juga sering menulis dugaan kematian Umar Patek. Namun, tidak ada yang bisa mengonfirmasi dugaan itu hingga akhirnya terjadi penggerebekan di Pamulang, Tangsel, kemarin.
Pemerintah AS berjanji akan memberi hadiah 1 juta dolar AS (setara Rp 9,3 miliar) kepada siapa yang berhasil menangkap atau menemukan Umar Patek dalam program "Hadiah untuk Keadilan". Nilai ini lebih rendah dibandingkan hadiah untuk penangkapan Dulmatin yang mencapai 10 juta dolar AS (setara Rp 93 miliar).
Data terakhir intelijen menyebutkan, Umar Patek memiliki tinggi badan 166 cm, berat 60 kg, rambut dan mata cokelat. Umar Patek memiliki nama alias Umar Kecil, Umar (Arab), Pa'tek, Pak Taek, Abu Syekh, dan Zacky.
Setelah kematian Noordin M Top tahun 2009, muncul kekhawatiran Dulmatin dan Umar Patek akan kembali lagi ke Indonesia. Benarkah tersangka teroris yang tewas di Warnet Multiplus dan Gang Asem, Pamulang, adalah Umar Patek dan Dulmatin? Konfirmasi dari Mabes Polri yang akan menjelaskan kelak.
Menurut mantan Kepala Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri Brigjen Purn Dudon Satyaputra, proses tes DNA terhadap jenazah pria misterius yang diduga Dulmatin akan memakan waktu tiga hari. "Umumnya, pemeriksaan tes DNA membutuhkan waktu tiga hari. Asalkan, persyaratan teknis tes DNA terpenuhi, yaitu adanya data pembanding dari garis keturunan Dulmatin, baik itu orangtua atau pun saudara sekandung," ujar Dudon semalam.
Kelompok JI
Sementara itu, Dulmatin merupakan pimpinan kelompok Jemaah Islamiyah (JI) di Asia Tenggara yang paling ditakuti. Ia mengkhususkan diri menyerang sasaran Amerika Serikat. Karena itu pula Washington memberikan hadiah 10 juta dolar bagi penangkap Dulmatin.
Berulangkali Dulmatin dikabarkan tewas, tapi nyatanya dia selalu luput dari penangkapan. Tahun 2008, tentara Filipina mengklaim bisa menewaskan Dulmatin di Pulau Tawi-tawi, tapi jasad Dulmatin tak ditemukan.
Satu teroris yang tewas dalam baku tembak antara Tim Densus 88 da kelompok teroris di Warnet Multiplus di Ruko Puri Pamulang, Jalan Siliwangi, Pamulang Barat, diduga Dulmatin. "Yang tewas diduga Dulmatin, tapi masih menunggu hasil tes deoxyribo nucleic acid (DNA) dulu," ujar sumber Warta Kota.
Kepala Densus 88 Mabes Polri, Brigjen Tito Karnavian, mengungkapkan, kelompok teroris yang digerebek di Pamulang adalah biang kerok pengirim calon?calon teroris ke Aceh. "Iya, dia biang keroknya yang kirim orang ke Aceh. Itu nama besar," katanya.
Dulmatin sering menggunakan nama samaran Amar Usmanan, Joko Pitoyo, Joko Pitono, Abdul Matin, Pitono, Muktamar, Djoko, dan Noval. Namun, beberapa orang sering menjulukinya 'genius'. Pria kelahiran Pemalang, Jawa Tengah, ini pernah mendapat latihan di Afganistan pada 1990?2001. Karena kepandaiannya, ia mendapat ilmu khusus dari Azahari Husin sebagai ahli pembuat bom dan bidang elektronik. Kemampuan merangkai bom membuat dirinya disebut?sebut berada di balik bom Bali tahun 2002. Saat bergabung dengan Azahari, Dulmatin disebut sering membantu merakit bom mobil dan rompi peledak. Namanya makin populer setelah polisi memasukkan Dulmatin dalam daftar pencarian orang (DPO).
Dalam melakukan aksi teror, ia berkawan dengan Imam Samudra. Di kalangan jaringan teroris di Indonesia, Dulmatin dikenal sebagai perakit bom dan ahli elektronik. Sejak kasus bom Bali 2002, Dulmatin tak jelas keberadaannya. Informasi yang diperoleh dari keluarganya di Pemalang menyebutkan, Dulmatin kemungkinan menetap di Malaysia.
Dulmatin lahir sebagai anak kelima dari enam bersaudara pasangan Masriyati (62)-Usman Sofi (72). Lelaki berperawakan tinggi dengan warna kulit cokelat itu lahir sebagai anak dari keluarga kaya dan pintar, banyak saudaranya yang sukses dalam pendidikan dan bisnis. Kakak?kakaknya ada yang menjadi dokter dan kini tinggal di Jakarta bersama istrinya.
Kemarin tim Densus 88 men-datangi rumah Dulmatin di Pemalang. Keluarganya masih ragu Dulmatin adalah teroris yang tewas di Warnet Multiplus, Pamulang. Namun mereka siap jika diminta untuk mengidentifikasi jenazah ke Jakarta.
"Kami siap dipanggil. Kalau memang diminta ke sana (Jakarta) kami siap," kata kakak Dulmatin, Azam Baabut, di Pemalang, semalam.
Menurut Azam, keluarganya tidak akan menghalangi pemeriksaan polisi. Justru keluarga juga ingin kebenaran terungkap. (yos/ver/ded/Kompas.com)

