

Sebuah peristiwa spektakuler akan terjadi di Jakarta pada 13 Maret ini. Namanya Video Mapping, yang akan "menghidupkan" Museum Sejarah Jakarta, atau lebih ngetop dengan nama Museum Fatahilah.
Bukan sulap bukan sihir, gedung museum bekas kantor gubernur zaman VOC itu akan menjadi layar 3 dimensi sebuah pemutaran film 3 dimensi yang berbeda dari film 3 dimensi di bioskop. Jadi sayang banget kalau sampai kelewatan event ini.
Artis yang membuat Video Mapping ini jauh-jauh datang dari London, Inggris, dan sudah sangat ngetop di negaranya Ratu Elizabeth itu dengan karya-karya seni instalasi yang menggunakan multimedia. Mereka adalah D-Fuse, sekelompok artis yang berbasis di London, dan mengeksplorasi seni intalasi dengan menggunakan berbagai media. Oh ya, artis di sini artinya adalah seniman ya, dari kata bahasa Inggris artist, bukannya artis yang dari kata actor dan actress.
D-Fuse didirikan oleh Michael Faulkner, seorang sutradara seni instalasi yang piawai. Faulkner sendiri yang akan hadir di Indonesia untuk menunjukkan betapa hebatnya dia dalam membuat film 3 D yang lain daripada yang lain itu. Michael didampingi rekannya, seorang artis video (video jockey/VJ) yang memiliki kemampuan DJ, yakni Matthias Kispert.
Mereka berdua akan menyuguhkan tontonan yang membuat mulut ternganga, karena tontonan seperti ini tergolong baru banget di Jakarta. Dengan sentuhan ilusi optikal ditambah kemampuan fisika dan matematika yang kreatif, dan tentu saja imajinasi liar, mereka ingin mengajak penonton turut merasakan seni secara-multi dimensi dan multi-rasa dengan penekanan pada kertautan suara dan gambar. Singkat kata, Video Mapping yang akan ditampilkan luar biasa.
Jangan kaget jika tiba-tiba Museum Fatahillah itu menjadi hidup, atau tiba-tiba lenyap dari depan mata, digantikan rawa-rawa tahun 1596. Metode teknisnya sih nggak jauh beda dari yang digunakan David Copperfield menghilangkan Menara Eiffel. Efek tata suaranya juga bakalan hip secara Kispert mempunyai latar belakang seorang DJ. Pokoknya seru abis.
Artis Indonesia
Faulkner dan Kispert tak lupa menggandeng artis Indonesia, yakni Sakti Parentean, sutradara yang sarjana ekonomi dari Curtin University, Australia, yang gencar memupuk tumbuhnya industri kreatif Tanah Air. Nama Sakti sudah kondang di industri film manca negara.
Artis lainnya adalah Adi panuntun, juga anak muda kreatif yang namanya sudah dikenal di luar negeri. Sarjana lulusan Institut Teknologi Bandung itu yang menggagas ITB TV.
Kemudian ada Ferry Latif, satu dari sedikit fotografer Indonesia yang karyanya nongol di majalah National Geographic terbitan Amerika.
Untuk membuat film tersebut, para artis harus mengukur secara cermat panjang, lebar, dan tinggi bangunan Stadhuijs tersebut, sehingga film yang terproyksikan di bidang yang tepat. Untuk menayangkan film ini uga dibutuhkan tiga proyektor yang mempunyai pancaran sinar sampai 15.000 lumens (satuan cahaya). Proyektor-proyektor itu tadinya nggak ada di Indonesia, tapi untuk acara ini spesial diimpor.
Kota kreatif
Tontonan menarik ini diselenggarakan oleh British Council Indonesia dalam rangka menumbuhkan industri kreatif di Jakarta. Industri kreatif sendiri tidak akan muncul jika masyarakat sebuah kota tak kreatif. Masyarakat yang kreatif juga tak akan terbentuk jika tak ada lagi ruang bagi penduduk untuk menyalurkan ide kreatifnya.
Masalahnya, sekarang di Jakarta mulai lenyap ruang-ruang publik yang bisa menumbuhkan ide kreatif masyarakatnya. Sebagian besar ruang publik yang gratis atau murah itu sudah berubah menjadi ruang komersil yang tak bisa diakses sebagian besar masyarakat.
Adalah Charles Landry, lewat buku The Creative City: A Toolkit for Urban Innovators, memperkenalkan Gerakan kota kreatif (creative city) pada tahun 2000. Landry mengatakan, creative city adalah sebuah tempat di mana orang merasakan, bahwa mereka bisa berpikir bertindak, berencana dengan imajinasi.
Lebih lanjut Landry menjelaskan, sebuah kota yang kreatif bisa dilihat dari kesan pertama saat kita singgah. Misalnya keramahtamahannya. Keramahtamahan transportasi, khususnya. "Bagaiman sebuah kota seperti mengundang kita, untuk masuk lebih dalam, melalui bandara, pelabuhan, stasiun kereta api mereka." Kota kreatif juga berisi orang yang punya kombinasi pengetahuan begitu mendalam tentang kotanya, industrinya, seni budaya, bisnisnya dan yang secara bersamaan juga terbuka terhadap sebuah toleransi, punya kapasitas untuk mendengarkan. "Kota kreatif adalah juga tentang personality quality, di mana ada banyak orang dengan kualitas yang berbeda tadi, diizinkan untuk mengembangkan diri," tandas Landry.
Gerakan kota kreatif pun ditangkap oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) -Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa. Organisasi itu kemudian membentuk apa yang disebut Jaringan Kota-kota Kreatif -JKK-(The Creative Cities Network) pada 2004. Tujuannya tak lain adalah mempertahankan keberagaman budaya di mana kota-kota di dunia bisa saling bertukar pengalaman dalam upaya mempromosikan pusaka budaya lokal mereka masing-masing termasuk bagaimana menghadapi arus globalisasi. (ink/pra)
Nantikan program ‘Kota Kreatif Jakarta Punya!: Menyulap Taman Fatahillah’ di Museum Sejarah Fatahillah pada tanggal 13 Maret 2010, program ini didukung oleh British Council, Warta Kota, Pemprov DKI dan Kadin Jakarta.

