
Cawang, Warta Kota
SIAPA pun pasti teriris hatinya melihat kondisi Ratna Ningsih (22) yang terkapar di bangsal Ruang Edelwis, RS Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang, Jakarta Timur. Sekujur tubuh ibu satu anak itu penuh benjolan hitam, kulitnya mengelupas dan melepuh.
Sebelas hari lalu Ratna masih segar bugar. Kini, kondisinya berbalik 180 derajat. Saat dijumpai Warta Kota di RS UKI, Kamis (4/8) sore, kondisi ibu satu anak itu begitu mengenaskan. Kulit wajah hingga seluruh badannya tampak bersisik dengan luka-luka benjolan kecil yang menumpuk dan menghitam. Noda bercak hitam dan membiru itu tampak jelas menyertai sisik-sisik dan luka di sekujur badannya. Bau anyir dari kulitnya yang terluka sudah tercium dari jarak beberapa meter.
Bukan itu saja, kedua bola mata Ratna memerah seperti berdarah. Kelopak matanya terlihat menebal dan berwarna merah hati seperti terbakar. Bahkan sebelum mendapat perawatan di rumah sakit, kelopak matanya tertutup rapat dalam kondisi terkunci. Kedua bibirnya terluka seperti melepuh sehingga tampak merah menghitam.
"Namun setelah dirawat di sini, beberapa hari lalu kelopak matanya perlahan bisa terbuka," kata Willy Rahmat (29), suami Ratna, yang ditemui saat mendampingi istrinya kemarin sore.
Menurut Willy, sekitar lima hari lalu lidah dan gusi Ratna berdarah. Jika Ratna berusaha membuka mulutnya, darah segar keluar dari dalam mulut. "Mungkin karena panas di dalam tubuhnya, tenggorokan, lidah, dan gusinya terluka sehingga berdarah," katanya.
Wajah Ratna yang dulu segar kini tampak layu dengan bercak hitam di hampir seluruh wajah, mulai dari kening hingga pipinya. Kulit wajahnya juga bersisik dan dipenuhi benjolan kecil hitam yang menumpuk. Untuk mengurangi panas yang dirasakan di sekujur tubuh Ratna, dipakai daun pisang sebagai alas tidurnya, melapisi kasur.
Tak enak badan
Menurut Willy, kondisi yang dialami istrinya itu berawal pada Jumat (22/7) lalu. Saat itu Ratna mengeluh tak enak badan dan matanya yang gatal. Willy segera membawanya ke Puskesmas Kecamatan Ciracas yang berada tak jauh dari rumah mereka di Jalan Lapangan Tembak, RT 02/02 No 58 Kelurahan Cibubur, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur.
Di puskesmas, dokter hanya menanyakan keluhan Ratna. Tanpa melakukan pemeriksaan tensi darah dan pemeriksaan lainnya, sang dokter meminta Ratna menebus resep obat dengan biaya Rp 10.000.
Obat yang ditebus Willy buat Ratna sesuai resep dari dokter puskesmas itu ada empat item, yakni amoxicillin, krim untuk obat mata, dan dua lagi untuk penurun panas. "Istri saya tidak pernah diperiksa tekanan darahnya atau diperiksa yang lainnya. Langsung dikasih resep obat saja," kata Willy.
Malam harinya, setelah meminum obat dari puskesmas itu, kondisi Ratna malah memburuk. Panas tubuhnya makin tinggi serta muncul bintik-bintik hitam memerah di kedua tangannya. Bukan itu saja, gatal pada matanya juga makin menjadi-jadi.
"Sejak malamnya panas istri saya tidak turun dan malahan makin tinggi. Kemudian tangan kanan dan kiri mengeluarkan bintik merah, saya pikir demam berdarah," ujar Willy, yang baru setahun menikahi Ratna dan dikaruniai seorang anak berusia dua bulan.
Ditolak RS
Karena khawatir dengan kondisi istrinya, Willy segera membawa istrinya ke Klinik Permata Bunda di kawasan Ciracas, Sabtu (23/7). Di klinik itu paramedisnya juga meminta Willy untuk menebus obat.
Sepulang dari klinik Permata Bunda dan meminum obat dari klinik, kondisi Ratna semakin parah. Pada wajah dan seluruh tubuhnya timbul gelembung-gelembung kecil seperti cacar. Awalnya gelembung itu hanya kecil. Namun semakin lama makin besar hingga sebesar biji kelereng.
Karena kondisi istrinya tak berubah, Willy, yang memang memiliki surat keterangan tidak mampu (SKTM), membawa istrinya ke Rumah Sakit Pusdikkes TNI AD pada Minggu (24/7). "Saya bawa ke Rumah Sakit Pusdikkes di Kramatjati. Tapi di sana enggak ada dokter kulit, dan kami disarankan ke RSCM atau ke Fatmawati," katanya.
Hari itu juga pria yang pekerjaannya membantu-bantu mendekorasi pesta dan acara tertentu bersama temannya itu membawa istrinya ke RSUD Pasarrebo. "Kami cuma dilayani saat di IGD saja. Alasan di rumah sakit Pasarrebo juga sama, enggak ada dokter kulitnya yang bisa menangani," katanya.
Menurut Willy, RSUD Pasarrebo merujuk istrinya ke RSCM. Saat itu dia hanya bisa pasrah.
Pada Senin (25/7) dini hari, sekitar pukul 01.00, dia berniat membawa istrinya ke RSCM. "Setelah tidak diterima dan dilempar sana-sini, saya berencana membawa istri saya ke RSCM. Namun di perjalanan, gelembung di wajah istri saya semakin besar, sehingga saya membawanya ke RS UKI," katanya.
Di RS UKI Cawang, Ratna langsung diterima dan dirawat di Ruang Edelwis Kamar No 3. "Alhamdulilah di sini diterima dan langsung dirawat," kata Willy.
Di rumah sakit itulah dia bertemu dengan beberapa keluarga pasien lain yang iba pada kondisi Ratna. Dari apa yang diceritakannya, mereka menganggap Ratna adalah korban malapraktik. "Tapi saya enggak tahu soal itu. Yang penting orang Dinas Kesehatan dan dari puskesmas sudah ke sini dan katanya biaya pengobatan kami ke depan gratis," kata Willy.
Dr Rizkie Prasetyo dari Bagian Penyakit Dalam RS UKI mengatakan, dari hasil diagnosanya, saat masuk dan dirawat di RS UKI, ibu satu anak itu menderita Stephen Johnson Syndrome tingkat berat atau alergi karena obat dengan tingkat paling berat. Selain itu Ratna juga didiagnosa menderita Systemic Lupus Erythematosus atau penyakit alergi terhadap zat di dirinya sendiri karena pengaruh obat pula. "Karenanya kulitnya penuh dengan benjolan yang seperti melepuh," katanya.
Ditambahkannya, alergi yang dialami Ratna adalah alergi berat terhadap obat golongan penicilin. "Penyakit ini adalah alergi terhadap obat-obatan. Kami akan berupaya maksimal," kata Rizkie.
Rizkie juga akan mengupayakan agar jamur dan infeksi yang menyerang wajah dan tubuh Ratna tidak mengalami infeksi. "Kami akan jaga obat-obatan yang masuk ke dalam tubuhnya dan memilih dengan cermat agar tidak menimbulkan alergi baru," ujarnya.
Bebas biaya
Kepala Humas RS UKI, Astina Nainggolan, menuturkan, beberapa hari setelah Ratna masuk dan dirawat di RS UKI, perwakilan dari Dinas Kesehatan DKI sudah datang dan menemui keluarga Ratna. Rumah sakit sudah diinstruksikan oleh pihak Dinas Kesehatan agar tidak menarik biaya perawatan dan pengobatan dari keluarga Ratna. "Semua biaya akan ditanggung oleh Dinas," kata Astina.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Yenuarti Suaizi, mengatakan bahwa pihaknya menanggung seluruh biaya perawatan dan pengobatan Ratna. "Sampai sembuh kami tanggung biayanya," katanya.
Yenuarti juga membantah anggapan bahwa Ratna merupakan korban malapraktik. Menurut dia, untuk menentukan adanya malapraktik atau bukan, pihaknya akan melihat kembali rekam medik dan diagnosa dokter. "Kami akan lihat dulu rekam medik dan diagnosa ulangnya," katanya.
Baru punya anak
Ketika ditemui Warta Kota, Ratna terlihat sedih. Pasalnya dia baru saja merasakan jadi ibu karena belum lama melahirkan setelah menikah dengan Willy Rahmat pada Mei 2010. Pengorbanan yang dilakukan untuk punya anak cukup besar, di mana dia rela mengorbankan pekerjaannya sebagai karyawati bagian packing wafer di Pabrik Khong Guan di Ciracas. Padahal, pekerjaan itu baru dilakoninya selama tiga bulan. Sebelumnya, dia bekerja di Pabrik Monde di bagian yang sama.
Menurut ibunda Ratna, Sima, Ratna tergolong beruntung dapat bekerja di Pabrik Khong Guan, walau hanya lulusan SMP. Dia tak melanjutkan ke SMA karena keterbatasan biaya.
Keputusan Ratna untuk berhenti bekerja tergolong berani, lantaran sang suami justru tak memiliki pekerjaan tetap. Willy hanya membantu-bantu usaha dekorasi panggung pengantin bersama temannya saja, dengan penghasilan yang tak tetap.
"Dia sudah pengin punya anak banget soalnya. Saat bekerja itu dia sempat tidak hamil-hamil selama enam bulan. Begitu berhenti kerja, baru akhirnya bisa hamil," kata Sima.
Apes memang, selepas melahirkan dua bulan lalu, Ratna justru terkena sakit parah. Akibatnya, masa bahagianya menyusui anak harus terpotong dulu. Kini, anaknya terpaksa diberi susu formula dulu. "Anaknya sekarang dirawat oleh orangtua suaminya dulu," kata Sima. (bum/m2)

