

Dalam perkembangnnya TPST-TPST yang ada di sejumlah daerah berkembangs esuai kreativitas komunitasnya. Komunitas TPST di Kelurahan Baros, RW 16 dan RW 17, misalnya, sejak tahun 2010 membentuk kelompok yang bernama Tampomas.
Tampomas beranggotakan 40 orang. Dalam mengelola sampah kelompok ini membuat inovasi produk olahan sampah plastik menjadi produk kerajinan. Lahirlah tas, tempat tisu, bros, dompet, anyaman dan lain-lain.
Kegiatan ini memang tidak langsung mengubah penghasilan anggota komunitas secara besar-besaran namun menurutn warga setempat semangat anggota komunitas ini sangat tinggi. Salah satu sebabnya mereka bisa membantu mengurangi beban keluarga.
"Pendapatan memang belum banyak. Tapi tiap bulan ada saja pemasukan dari hasil kerajinan olahan sampah ini. Saya suka, punya pengalaman, menambah ilmu dan bisa membantu keuangan keluarga,” jelas Ny. Asep, koordinator RW 17 Kelurahan Baros.
Perjuangan Khilda yang tak kenal istrirahat ini mengantarkannya menjadi penerima penghargaan Ashoka Young Change Maker Award pada tahun 2009, untuk kaetgori water and sanitation. Pada awal tahun 2010 Khlida terpilih sebagai salah satu pemenang Sampoerna Pejuang 9 Bintang setelah tulisan tentang aktivitasnya terbit di Harian Pikiran Rakyat Bandung.
Perjuangan Khilda tidak berakhir ketika setelah dia menerima hadiah. Dia juga terus bergiat hingga komunitas binaannya pun merasakan hal yang sama dengan dirinya. Komunitas TPST Tampomas Baros Sukabumi, misalnya, mendapatkan penghargaan P2WKSS (Program Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera) tingkat propinsi. Namun Tampomas juga membimbing Khilda tampil sebagai kandidat penerima nobel Women Initiative Project dan pendukung penghargaan Goverment Award untuk Walikota Sukabumi.
Setelah beberapa TPST binaannya berkembang, Khilda mendorong komunitas-komunitas pengelola sampah itu melakukan inovasi. Kini mereka tengah mengembangkan pembuatan bahan bakar alternatif dari sampah, berupa minyak sampah. "Saat ini sedang dalam masa uji coba," katanya.
Kini setiap hari Khilda bekerja di beberapa tempat. Dia terus berusaha mengembangkan sistem manajemen sampah berbasis peningkatan kesejahteraan pengelola sampah. Untuk itu semua dia selalu menyisihkan 30 persen dari penghasilannya untuk pengembangan komunitasnya.
Setelah langkah awalnya mulai menunjukkan keberhasilan Khilda mengajak masyarakat binaannya untuk mulai memperhatikan lingkungan. Khilda terus menyadarkan mereka bahwa sampah yang kian hari kian menumpuk dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan manusia.(wip)
bersambung...

