

Jakarta, WartaKota
Masih hangat pemberitaan pembantaian orangutan yang dilakukan manusia tidak bertanggungjawab yang bekerjasama dengan oknum pengelola perkebunan sawit di Kalimantan. Mereka dibantai tanpa ampun karena dianggap sebagai hama yang menyerang bibit sawit atau dianggap pelaku utama kerusakan kebun mereka.
Sesuai data yang disampaikan Centre for Orangutan Protection (COP) diperkirakan sekitar 2.400 hingga 12.000 orangutan dibantai. Berawal dari keprihatinan ini, Orangutan Foundation International peduli terhadap hewan ini ini.
"Ketika mengevakuasi satu bayi orangutan, induknya pasti sudah mati, dari evakuasi satu bayi orangutan ini, dua dari 10 orangutan mati terbunuh," kata Orangutan Campaigner COP, Daniek Hendarto kepada Warta Kota di Kemenhut Jl Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (22/11) lalu.
Saat ini, menurut Daniek, terdapat 1.200 orangutan yang direhabilitasi. Daniek berharap pemerintah Indonesia, terutama Kementerian Kehutanan lebih serius dalam melakukan upaya perlindungan dan penindakan hukum terkait kasus pembantaian orangutan tersebut.
Menurut Daniek, pembantaian orangutan itu dilakukan dengan dalih satwa langka itu adalah hama yang harus dibasmi. Hilangnya tempat hidup atau habitat membuat orangutan melakukan perusakan atau memakan bibit kelapa sawit yang ditanam perusahaan sawit. Situasi itu memicu konflik, akhirnya orangutan menjadi sasaran perburuan meski sebenarnya kebon kelapa sawit mempunyai andil besar terjadinya perusakan lingkungan.
Menanggapi hal ini, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) sudah mengumumkan kemitraan dengan OFI. Upaya itu dilaksanakan untuk mencegah orangutan dari kepunahan. Menteri Kehutanan (Menhut), Zulkifli Hasan di tempat yang sama menyatakan, keanekaragaman harus terus dijaga. "Hutan harus multihayati, tanaman harus beragam, dan kalau hanya satu jenis niscaya bencana mengancam, penyakit akan terjadi di mana-mana," kata Zulkifli Hasan.
Maka Menhut berjanji pemerintah akan bertindak tegas terhadap siapa saja yang melakukan penangkapan dan pembantaian orang utan. "Siapa saja akan dihukum karena melakukan penangkapan dan penyiksaan orangutan," kata Zulkifli.
Orangutan Foundation International (OFI) adalah salah satu organisasi yang fokus untuk mencegah kepunahan orangutan. OFI adalah organisasi nirlaba yang fokus untuk menjamin kesejahteraan orangutan liar dan habitat hutan tropis mereka. OFI didirikan Dr Birute Mary Galdikas pada tahun 1986. Mary sudah hidup di belantara Kalimantan bersama dengan orangutan dan merawat orangutan dengan melakukan berbagai kerja sama termasuk dengan pihak pengusaha kelapa sawit.
Sebelumnya, International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List pada tahun 2002 lalu menyatakan bahwa orangutan di Kalimantan adalah endangered atau langka (terancam punah). Jumlah orangutan di Kalimantan Tengah mencapai 31.300 ekor. Kondisi mereka saat ini dalam bahaya dan jika tidak diatasi dalam 10 tahun terakhir populasi orangutan dikawatirkan akan punah. Ada beberapa orangutan dirawat di Orangutan Care Center and Quarantine (OCCQ)-OFI. Orangutan ini dirawat untuk kemudian dikembalikan ke hutan pada saat sudah dewasa.
Sementara itu, pendiri OFI, Dr Birute Mary Galdikas menjelaskan, orangutan perlu mendapatkan tempat tinggal yang layak dan hutan harus dipertahankan sebagai habitatnya.
"Kami mendukung upaya pemerintah untuk mempertahankan hutan karena tanpa hutan orangutan dalam bahaya dan populasinya semakin terancam," kata Mary. OFI sangat bersyukur atas dukungan berbagai pihak untuk menyelamatkan orangutan itu. "Program ini merupakan langkah penting untuk mendorong para pelaku usaha bekerja sama dengan kami dalam rangka membuat kehidupan orangutan menjadi lebih baik," katanya.
Program yang dilaksanakan selama dua tahun ini diberi nama Friends of Orangutan, sejalan dengan tujuan dan sasaran dari Rencana Orangutan Nasional Indonesia 2007-2017 yang dilaksanakan dengan pelepasliaran 40 orangutan dewasa ke habitat asli mereka, yang dilaksanakan dengan upaya penyelamatan dan pelestarian alam.
Program itu juga didukung PT SMART Tbk dan Asia Pulp & Paper (APP), yang bekerja sama dengan OFI untuk mengembangkan program pelatihan bagi karyawan perkebunan kelapa sawit dalam hal konservasi orangutan di Kalimantan Tengah, Barat dan Timur, serta akan memperoleh bantuan teknis dari OFI dalam penanganan dan rehabilitasi orangutan. (gede moenanto soekowati)

