

Jakarta, WartaKota
Berlenggak-lenggok di atas catwalk tak cuma dilakukan peragawati atau modelling saja. Ternyata, seekor ayam-pun bisa melakukan hal serupa, tanpa canggung dan keki untuk 'bergaya bak model' di atas panggung.
Itulah yang dilakukan ayam Serama. Istilah ayam Serama bagi orang awam memang terbilang agak asing terdengar di telinga kita. Tapi bagi pecinta ayam yang berasal dari Negeri Jiran Malaysia ini lain. Baginya ayam ini memiliki keunikan dan keindahan tersendiri.
Maka, ayam ini sudah banyak dikembangkan oleh penghobi unggas 'Pak Cik' ini di Indonesia. "Ayam Serama memiliki perilaku yang cukup unik, yakni ia senang sekali memamerkan bentuk tubuhnya yang imut-imut tersebut di catwalk. Sambil berjalan hilir mudik, sering kali ia membusungkan dada dan mengepakkan sayap menunjukkan kehebatannya," kata Ketua Asosiasi Penggemar Ayam Serama (APASI), Ralls 'Galaxy' kepada Warta Kota, Senin (28/11).
Ralls menyarankan bagi yang penasaran melihat kepiawaian ayam Serama, 10 Desember 2011 nanti APASI akan menggelar APASI CUP II, yakni lomba ayam Serama di WTC Mangga Dua, Jakarta Utara.
Ajang ini memperebutkan Piala Menteri Perikanan dan Kelautan. "Rencananya dalam lomba nanti hanya melombakan 5 kelas saja, yakni Jantan Dewasa A, Jantan Dewasa B, Muda Jantan, Jantan Tanpa Lawi, dan Betina Dewasa," kata Ralls.
Adapun cikal bakal ayam Serama ini adalah ayam hasil rekayasa persilangan antar ras ayam dunia. hal ini dilakukan penyilang ayam hias di Malaysia, Wee Yean Een pada dekade 1970-an hingga 1990-an. Nama Serama berasal dari tokoh Wayang Sri Rama yang selama digambarkan sebagai tokoh yang melambangkan keanggunan, kesatria, dan gagah berani.
"Tren ayam Serama di Indonesia, sejak 2003, namun sempat menurun karena masalah flu burung. Jadi waktu itu banyak yang dijual-jualin dan ada juga yang dimusnahkan. Tapi beberapa tahun belakangan ini kembali naik daun dan banyak mengembangbiakan," kata Ralls yang mengaku memulai beternak Serama sejak tahun 2005 hingga sekarang.
Sedangkan APASI dibentuk pada 15 April 2010 lalu. Saat ini anggota APASI di Jabodetabek sekitar 50-an. Aktifitas mereka adalah mengikuti kontes hingga ke negeri asal ayam tersebut. Misalnya belum lama ini mereka mengikuti kontes 'Tamat Keramat' di Kualalumpur.
Menurut Ralls, seiring dengan banyaknya penggemar ayam Serama, bermunculan banyak wadah independen penggemar ayam Serama di banyak kota di Tanah Air. Misalnya, Nur Serama Farm, JERAMI (Jepara Serama Mania), PASS (Penggemar Ayam Serama Semarang), Lawi Emas Ayam Serama Farm, Ayam Serama, Ayam Serama, Pecinta Ayam Serama, Komunitas Pelestari Ayam Serama Sumsel (KAPASS), dan lainnya.
"Dengan adanya asosiasi (APASI) ini kami harapkan bisa memberikan sumbangsih teman-teman untuk memperluas wawasan kita di bidang hobi ayam Serama dan juga mengembangkan ayam Serama menjadi hobi yang dapat memberikan kepuasan batin bagi pemiliknya," kata Ralls.
Dia menambahkan, hobi ayam Serama juga memiliki nilai bisnis yang menggiurkan. Pasalnya, harga ayam Serama mulai dari sekitar Rp 200.000-an per ekor hingga tak terhingga harganya. "Apalagi ayam Serama yang sudah menang kontes harga bisa melambung, seperti belum lama memang kontes laku dijual Rp 120 juta," tandas Ralls. (Agung Nugroho)

