• Selamat Datang
 
  • :  
  • Kriminal
  •   :  
  • Artikel Kriminal
  •   :  
Senin, 12 Desember 2011
Operasi Penuh Rahasia di Bangkok
Oleh Khaerudin
KOMPAS/RIZA FATHONI  
Dibaca : 259 kali     Komentar: 0

Palmerah, Warta Kota

DUTA Besar Indonesia untuk Thailand Muhammad Hatta mengaku baru tahu buron kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia tahun 2004, Nunun Nurbaeti, tertangkap pada Sabtu (10/12) pukul 09.30.

Padahal, Komisi Pemberantasan Korupsi telah mengetahui penangkapan Nunun sejak Kamis pagi. Sebelumnya, Rabu malam, Kepolisian Kerajaan Thailand menangkap Nunun di sebuah rumah mewah di Distrik Suphan Sung, Bangkok.

Penangkapan Nunun menjadi operasi KPK yang sangat rahasia. Sebagai istri mantan Wakil Kepala Polri Adang Daradjatun, potensi kebocoran informasi dari perkembangan perburuan Nunun sangat terbuka.

Apalagi KPK punya pengalaman kebobolan saat memburu Nunun ketika berada di Singapura pada Maret 2010. Meski telah mengintai apartemen yang diduga dihuni Nunun selama di Singapura, KPK tetap kecolongan, buruannya keburu pergi meninggalkan negara itu.

Kebocoran informasilah yang membuat Nunun lolos dari kejaran KPK. Salah satu petinggi KPK menyebut sumber kebocoran informasi ada di KBRI.

KPK mulai berhati-hati ketika mengetahui Nunun beberapa kali terlacak berpindah tempat. Maret 2011, Nunun terlacak menggunakan paspor meninggalkan Bangkok menuju Phnom Penh, Kamboja. Mei 2011, KPK mengirim tim ke Thailand.

Pada bulan yang sama, pemerintah mencabut paspor Nunun. Di Thailand, tim KPK juga berjuang di pengadilan setempat agar ketika buruannya ditangkap, otoritas setempat mengizinkan diekstradisi.

Di Jakarta, Juru Bicara KPK Johan Budi mengakui, KPK mengirim tim ke Thailand. Ia tak memberi tahu secara detail perkembangan perburuan Nunun oleh tim yang dikirim ke sana. Johan malah menginformasikan, semua penyidik KPK di Thailand ditarik lagi ke Jakarta.

Info berikutnya yang sampai ke media adalah kabar pengadilan Thailand memenangkan gugatan KPK mengekstradisi Nunun. Kabar tersebut disampaikan Johan pada November. Padahal, putusan pengadilan keluar pada Juli.

Mengintai terus

Akhir Oktober, salah satu unsur pimpinan KPK bertemu dengan Kompas. Saat itu, Kompas diperlihatkan tiga apartemen di Bangkok yang diduga dihuni Nunun. Apartemen itu terus diintai oleh tim penyidik KPK. Cerita ini tentu berbeda dengan keterangan Johan sebelumnya yang menyatakan semua tim KPK telah ditarik dari Thailand.

Ternyata, tim KPK tinggal di Thailand dan terus mengintai pergerakan Nunun. KBRI di Bangkok tak tahu keberadaan mereka. Bahkan, sebagian penyidik atau malah pimpinan KPK ada yang tak tahu jika ada penyidik yang masih tinggal dan mengintai Nunun di Bangkok.

Ini salah satu cara kerja KPK memburu koruptor. Jika koruptor dekat dengan polisi, penyidik yang diturunkan biasanya jaksa. Demikian sebaliknya. Rencana penangkapan jaksa Urip Tri Gunawan tak diketahui Ketua KPK (saat itu) Antasari Azhar. Antasari baru diberi tahu setelah Urip ditangkap.

Dari hasil kerja tim seperti itulah, Kompas ditunjukkan foto warga negara asing, ras Kaukasia, yang diduga jadi pelindung Nunun. Salah satu unsur pimpinan KPK mengatakan, warga negara asing itu diduga terkait dengan sindikat mafia narkoba di Thailand. Foto itu diambil di Bangkok dan di sebuah restoran di Jakarta. KPK menguntit ke mana si pelindung pergi. Belakangan, Ketua KPK Busyro Muqoddas menuturkan, ada kekuatan besar yang melindungi Nunun dalam pelariannya.

Kamis pagi, ketika KPK pertama kali mendapat informasi bahwa Nunun ditangkap polisi Thailand, KPK tak mau kebobolan lagi. ”Sangat kedap, hanya beberapa orang yang tahu,” ujar Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah.

Ini menjelaskan mengapa Dubes M Hatta baru tahu penangkapan Nunun pada Sabtu pagi. Hatta secara resmi harus diberi tahu karena KBRI yang berwenang mengeluarkan surat perjalanan laksana paspor untuk Nunun yang paspornya telah dicabut pemerintah. ”Satu-satunya instansi yang kami tak ketahui detail operasinya di luar negeri, ya, KPK,” kata Hatta.

Agar pemulangan Nunun tak memakan waktu lama dan berbelit, Chandra melobi pimpinan kepolisian Thailand. Akhirnya disepakati, Nunun diserahkan polisi Thailand di atas pesawat Garuda. Tidak melalui proses ekstradisi yang bisa makan waktu lama. ”Thailand juga tak mau direpotkan oleh urusan beginian,” kata Chandra. (Kompas.com/Kompas Cetak)


Share :                
A   A   A
Beri komentar :
Nama
Email
Komentar
Kode
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
 
CLOSE[X]