

Bogor, Wartakotalive.com
SD Negeri Tajur 7 yang berlokasi di Kampung Parungponteng, Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, minim ruang kelas. Sekolah yang letaknya cukup terpencil itu saat ini hanya memiliki tiga ruang kelas.
Karena keterbatasan ruang belajar ini, pihak sekolah terpaksa membagi ruangan untuk dua kelas. Kelas 3 satu ruangan dengan murid kelas 2 dan murid kelas 4 bersatu dengan kelas 5.
Antara murid yang satu dan lainnya hanya disekat oleh papan bekas papan tulis. Proses belajar mengajar yang "tidak biasa" ini membuat konsentrasi para murid pun menjadi terpecah.
"Terpaksa harus gantian pas nerangin. Kalau guru kelas 5 lagi menerangkan, murid-murid saya, saya kasih tugas menjawab soal-soal, demikian pula sebaliknya," ujar Endin, guru kelas 4 saat ditemui sedang mengajar PKN, Senin (9/1) siang.
Endin menjelaskan, pembagian ruang kelas untuk belajar karena selama ini SDN Tajur 7 hanya memiliki tiga ruang kelas, plus ditambah satu ruang guru yang disulap untuk belajar murid kelas 6.
Satu ruang kelas khusus untuk kelas 1, satu kelas untuk murid kelas 2 dan 3 dan satu kelas lagi, murid kelas 4 serta 5. "Kondisi ini sudah berlangsung sejak tahun 2006 lalu," kata Endin.
Hal senada dikatakan Sanusi, guru kelas 5. Dirinya kesulitan memberikan pelajaran kepada muridnya karena ruang kelas dibagi dengan murid lainnya. Padahal, katanya, anak didiknya membutuhkan konsentrasi saat sedang mengerjakan tugas atau soal.
"Pas lagi mengerjakan tugas, tiba-tiba perhatian murid-murid saya beralih ke sebelah kiri, saat Pak Endin sedang menyampaikan pelajaran," kata pria yang akrab disapa Uci ini.
Di ruang kelas itu, posisi murid kelas 5 berada di sisi kiri dari depan, sedangkan kelas 4 di bagian kanan. Antara murid kelas 5 dan 4 hanya dibagi sebuah papan tripleks.
Pantauan Warta Kota, bangunan SDN Tajur 7 cukup baik karena baru direnovasi sekitar 3 tahun lalu. Hanya saja minimnya ruang kelas menjadi kendala tersendiri bagi pihak sekolah dalam menjalankan proses belajar mengajar.
"Muridnya sekitar 120 orang, ruang kelas yang ada cuma tiga, satu kelas bekas ruang guru yang diubah jadi tempat belajar," ujar HM Basri SAg, Kepala SDN Tajur 7.
Untuk bisa sampai ke lokasi SDN Tajur 7 bukanlah perkara mudah. Selain lokasinya terpencil dari keramaian dan berada di tengah-tengah perbukitan, akses jalan menuju ke gedung SD itu sangatlah sulit, dengan kondisi medan jalan yang berbatu bercampur tanah serta turunan yang sangat curam.
Jangankan menggunakan kendaraan roda empat, mengendarai motor pun harus ekstra hati-hati jika tidak ingin terjatuh. Bahkan, warga sekitar pun harus memodifikasi sepeda motornya menggunakan ban motor trail.
"Kalau enggak diganti, bisa mater Pak. Makanya bodi motornya bebek, tapi bannya, ban motor trail," kata Udin Somad (25), warga sekitar.
Basri, menambahkan, di sekolahnya bukan hanya kekurangan ruang kelas saja tapi juga tidak memiliki ruang kantor untuk guru dan kepala sekolah.
"Untuk saat ini kita menggunakan ruang perpustakaan untuk dijadikan ruang guru dan kepala sekolah dan tetap mengunakan sekat juga sebagai pembatas," keluhnya.
Pria yang baru menjabat Kepsek sejak Mei lalu ini mengatakan, akses jalan menuju SD yang terletak di ujung kecamatan Citeureup itu pun rusak parah. "Jalan sepanjang 2 km menuju sekolah ini pun sangat sulit dilalui," tukasnya.
Kendati sudah melaporkan kondisi ini ke UPTD Pendidikan Citeureup, namun hingga saat ini belum ada monitoring atau tanggapan. "Saya hanya bisa berharap, semoga sekolah ini diperhatikan sehingga tidak ada lagi anak yang putus sekolah," ujarnya. (Soewidia Henaldi)

