• Selamat Datang
 
  • :  
  • Sudut Kota
  •   :  
  • Denyut Kota
  •   :  
Minggu, 15 Januari 2012
Kebaikan Alam Saja Tidak Cukup...
Kehidupan Nelayan
KOMPAS/HERPIN DEWANTO PUTRO  
Dibaca : 352 kali     Komentar: 0

Palmerah, Wartakotalive.com

Pelabuhan perikanan di Desa Pengambengan, Kabupaten Jembrana, Bali, Senin (12/12) siang, tampak riuh. Para nelayan beserta keluarga berpesta dan bersyukur atas rezeki yang telah mereka dapatkan dari laut selama ini.

Di tanah lapang dekat bangunan tempat penimbangan ikan dibangunlah sebuah panggung hiburan. Begitu para perempuan muda penyanyi naik ke pentas, dentuman musik dangdut langsung memekakkan telinga. Satu per satu nelayan mendekat ke panggung dan asyik berjoget hingga berkeringat.

Sorak-sorai juga terdengar di dermaga. Sebagian nelayan mengikuti lomba balap sampan, baik menggunakan motor maupun dayung. Ada pula lomba tarik tambang di atas sampan. Sejumlah televisi disiapkan di panggung hiburan sebagai hadiah bagi para pemenang.

Acara syukuran, yang disebut petik laut, ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan para nelayan di Desa Pengambengan setiap tahun pada bulan Muharam. Tidak hanya bersenang-senang, para nelayan itu juga menggelar doa bersama untuk bersyukur sekaligus memohon rezeki yang lebih banyak dari laut.

Ali Nuri (52), nelayan, mengakui, acara syukuran tahun ini sangat tepat karena nelayan baru saja melewati masa paceklik yang berlangsung sejak awal 2010 hingga pertengahan 2011. ”Kami baru bisa menangkap ikan bulan Agustus tahun ini,” katanya.

Kabupaten Jembrana memiliki panjang garis pantai 80,45 kilometer, yang menghidupi 10.147 nelayan. Sebanyak 73 kelompok nelayan atau sekitar 2.900 nelayan di antaranya berada di Desa Pengambengan.

Nelayan di Desa Pengambengan memiliki tangkapan utama ikan lemuru. Ikan ini menjadi bahan baku utama bagi 15 pabrik pengolahan ikan di desa tersebut. Ikan lemuru diolah menjadi ikan kaleng (sarden) yang banyak dijual di pasar ataupun toko besar di Indonesia.

Hampir satu bulan terakhir, kata Ali, tangkapan ikan lemuru sangat melimpah. Sekali melaut, nelayan bisa mendapat 20-80 ton ikan lemuru, yang dijual Rp 5.000 per kilogram. Biasanya hanya 2-10 ton ikan lemuru yang didapat sekali melaut.

”Baru kali ini anak buah saya bisa mendapat gaji Rp 8 juta selama 20 hari melaut, biasanya hanya Rp 2 juta atau paling banyak Rp 3 juta,” ucap Ali yang mempunyai 55 anak buah.

Nelayan lain, Lukman (57), mengatakan, keberadaan ikan lemuru sangat bergantung pada musim. Biasanya pada musim hujan, ikan lemuru menghilang. Jika perairan di Selat Bali memburuk, ikan lemuru kadang berpindah ke perairan di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

”Kami juga senang karena biasanya bulan Desember ini ikan lemuru sudah sulit ditangkap, tetapi kenyataannya tidak,” kata Lukman. Melalui acara petik laut ini, Lukman berharap alam bisa berbaik hati lagi pada tahun 2012.

Solar terbatas

Namun, bagi nelayan di Desa Pengambengan, kondisi alam yang baik untuk melaut belum menjamin kehidupan nelayan akan lebih baik. Meski cuaca baik, sering kali nelayan tidak bisa melaut karena solar terbatas.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kabupaten Jembrana Abdul Kadir Jailani menyebutkan, kebutuhan solar nelayan di Pengambengan minimal 32 ton per hari. Namun, pasokan sering hanya 16 ton per hari di stasiun pengisian bahan bakar nelayan di sekitar pelabuhan.

Menurut Ali, sekali melaut, sebuah perahu nelayan membutuhkan minimal tiga drum solar atau setara dengan 600 liter. Akibat keterbatasan solar, nelayan tidak jarang harus mencari solar di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) dan mengantre bersama pemilik kendaraan.

”Membeli di SPBU sebenarnya repot juga karena, untuk membeli dalam jumlah besar, kami harus punya izin dari Pemerintah Kabupaten Jembrana,” ujar Ali seraya menambahkan bahwa kesulitan solar ini sudah terasa sejak lima tahun lalu. ”Menyimpan solar cadangan, kan, juga dilarang karena dianggap menimbun solar,” kata Ali lagi.

Kelangkaan solar ini, dia melanjutkan, harus segera dibenahi supaya nelayan semakin sejahtera. ”Saya sudah capek berkali-kali menyampaikan persoalan ini ke DPRD (Kabupaten Jembrana),” katanya.

Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Kelautan Kabupaten Jembrana I Ketut Wiratma mengakui, pihaknya tidak dapat mengintervensi kebijakan PT Pertamina selaku pemasok bahan bakar. ”Kami hanya sebatas menyampaikan permintaan kami kepada Pertamina,” tuturnya.

Dinanti pengusaha

Tangkapan ikan yang banyak juga menjadi harapan para pengusaha pengolahan ikan di Pengambengan. Alasannya, harga ikan lemuru dari nelayan lebih murah ketimbang ikan impor.

Putut Wibisono, Kepala Bagian Personalia dan Umum PT Bali Maya Permai (pabrik pengalengan ikan), mengatakan, perusahaannya membutuhkan hingga 80 ton ikan lemuru per hari. Namun, tangkapan ikan nelayan Pengambengan paling banyak hanya separuhnya.

Supaya produksi tetap berjalan, pabrik terpaksa mengimpor ikan lemuru, antara lain dari China, India, Pakistan, dan Jepang. ”Tentu dengan harga dua kali lipat dari harga nelayan lokal atau mencapai lebih dari Rp 8.000 per kilogram,” kata Putut.

Apa yang disampaikan Putut membuktikan bahwa peran nelayan sangat penting bagi masyarakat. Jika alam sudah berbaik hati memberi limpahan ikan, bagaimana dengan para pemangku kepentingan di bidang perikanan? Sudahkah berbaik hati terhadap nelayan? (Kompas Cetak/Herpin Dewanto)
 

Share :                
A   A   A
Beri komentar :
Nama
Email
Komentar
Kode
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
 
CLOSE[X]