• Selamat Datang
 
  • :  
  • Layanan Umum
  •   :  
  • Warta Layanan Umum
  •   :  
Selasa, 17 Januari 2012
Februari Puncak Hujan di Bogor
Jakarta Waspada Banjir
istimewa  
Dibaca : 639 kali     Komentar: 0

Bogor, Wartakotalive.com

Peneliti Senior Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB Ernan Rustiadi mengatakan, berdasarkan analisa dan penelitian terhadap kondisi alam, puncak curah hujan di Bogor dan kawasan Puncak akan terjadi pada awal Februari mendatang.

Diperkirakan hujan dengan intensitas sangat deras akan terjadi saat itu dan dampaknya akan meningkatkan debit air Sungai Ciliwung.

"Yang berbeda itu hanya kerentanannya saja, setiap tahun meningkat dan ancamannya menimbulkan banjir. Dan, puncaknya terjadi Februari mendatang. Biasanya Jakarta selalu banjir akibat curah hujan yang terjadi di kawasan Puncak," ujarnya saat memaparkan hasil penelitiannya terkait inkonsistensi tata ruang di Jabodetabek, Senin (16/1) siang, di Bogor.

Lebih lanjut Ernan menjelaskan banjir di Jakarta itu disebabkan oleh beberapa faktor yang ada di hilir dan hulu. Untuk di hilir katanya, banjir dikarenakan terjadinya penurunan permukaan tanah. Akibatnya, pori-pori tanah berkurang akibat banyaknya pembangunan gedung bertingkat dan pemukiman.

"Selain itu rusaknya drainase sehingga terjadinya penyumbatan aliran air. Sedangkan faktor hulu, dikarenakan telah terjadi kerusakan lingkungan dari tahun ke tahun semakin parah," katanya.

Meningkatnya intensitas curah hujan di kawasan Puncak, jika dilihat dari frekuensi status banjir di mercu bendung Katulampa grafiknya dari tahun ke tahun juga semakin naik. "Mulai dari status siaga III, II, dan I akan berlaku saat musim penghujan di bulan Februari," tukasnya.

Di samping itu, kata Dekan Fakultas Pertanian IPB ini, kerusakan lahan di kawasan Puncak disebabkan karena penataan ruangnya tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang ditetapkan pada 2002. "Kawasan hutan yang ada di Puncak 40 persen tidak sesuai dengan tata ruang," katanya.

Sementara itu, Kepala P4W IPB Setia Hadi MS mengatakan hutan konservasi kawasan Puncak adalah kawasan yang tidak boleh dijamah. Namun, kenyataannya saat ini, sudah beralih fungsi menjadi kebun dan vila.

"Di Puncak ada juga hutan lindung, hutan yang harus dilindungi namun kenyataannya saat ini dijadikan kebun teh dan vila. Paling banyak menyimpang terdapat di Desa Tugu Utara yakni seluas 570 hektar," katanya. (wid)

Share :                
A   A   A
Beri komentar :
Nama
Email
Komentar
Kode
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
 
CLOSE[X]