

Tangerang, Warta Kota
Seperti biasanya, tiap kali menjelang perayaan Tahun Baru China atau Imlek, permintaan kue keranjang mengalami peningkatan. Kue tersebut oleh etnis Tionghoa akan dibagi-bagikan ke warga yang tidak mampu.
"Ini sudah menjadi rutinitas, setiap mau Imlek, yang pesan kue keranjang dan dodol pasti meningkat. Untuk Imlek tahun ini yang pesan sudah sekitar 10 ton," ucap Umar Sanjaya, pengusaha kue keranjang di Tangerang, Selasa (17/1).
Umar yang merupakan putra kedelapan Ny Lauw (pengusaha kue keranjang), mengaku sudah mengantisipasi peningkatan permintaan itu sejak jauh-jauh hari. Mulai dari persiapan bahan baku produksi hingga tenaga kerja lepas. "Seperti beras ketan sudah kami stok, juga kayu bakar stoknya sudah lebih dari 20 truk," ujarnya.
Mengenai jumlah tenaga kerja lepas, kata Umar, tidak kurang dari 100 orang warga Kampung Gaga, Desa Kiarapayung, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, telah dipekerjakan sejak 20 hari lalu. "Mereka kami bayar harian, tapi gajian pas sudah Imlek, ketika pesanan sudah tidak ada," ucapnya.
Menurut Umar, harga bahan baku cenderung stabil. Namun harga kue keranjang dan dodol berbagai rasa naik sekitar lima persen dibandingkan tahun lalu. Misalnya beras ketan tetap Rp 8.000/kg, gula pasir Rp 9.000/kg, dan kayu bakar Rp 1 juta/truk.
Akan tetapi tarif tenaga kerja dinaikkan oleh Umar, yang tadinya Rp 40.000-Rp 80.000/hari menjadi Rp 50.000-Rp 100.000/hari. Semua tergantung pada kinerja masing-masing tenaga kerja lepas itu.
Karena tarif tenaga kerja naik, maka kini kue keranjang dijual dengan harga Rp 25.000/kg, dodol biasa Rp 35.000/kg, dodol wijen Rp 40.000/kg, dan dodol durian Rp 45.000/kg.
Sementara itu, para tenaga kerja lepas sendiri mengaku tidak tahu persis berapa bayaran mereka. "Biasanya nanti kalau sudah selesai baru dibayar. Jadi kami tidak tahu upah sekarang ini," kata Ami, yang sudah lima tahun menjadi tenaga kerja lepas membuat kue keranjang.
Hal itu dibenarkan Iyuk, yang sudah 10 tahun menjadi tenaga lepas. "Lumayan Mas, daripada nganggur di rumah, mending bekerja di sini," ujarnya.
Sementara menurut Ny Lauw, untuk menjaga pelanggannya tidak kabur, beras ketan ditumbuk sendiri agar kualitas tepung yang dihasilkan lebih bagus. "Memang lebih repot, harus menumbuk sendiri, tapi kue keranjang dan dodol yang dihasilkan kualitasnya lebih bagus. Tidak keras biar disimpan lama," ucap wanita berusia 87 tahun itu.
Menurut Ny Lauw, karena kini banyak produsen kue keranjang dan dodol, maka jumlah pelanggannya tidak meningkat. Mereka yang membeli adalah pelanggan lama.
"Sekarang ini bersaing di harga. Orang seringkali beli yang murah karena kue keranjang untuk dibagi-bagi, bukan untuk dimakan sendiri," ucapnya. (ver)

