• Selamat Datang
 
  • :  
  • Sudut Kota
  •   :  
  • Denyut Kota
  •   :  
Rabu, 18 Januari 2012
Garebeg Sudiro, Merajut Kerekatan Warga
Jelang Imlek
KOMPAS/SRI REJEKI  
Dibaca : 350 kali     Komentar: 0

Solo, Wartakotalive.com

Satu nusa// satu bangsa// satu bahasa kita// Tanah air pasti jaya// untuk selama-lamanya.

Lantunan lagu ”Satu Nusa Satu Bangsa” mengawali rangkaian Garebeg Sudiro, acara khas menyambut Imlek di Kota Solo. Tradisi garebek itu biasanya digelar Keraton Surakarta, yakni mengirab hasil bumi yang dikemas dalam bentuk gunungan yang biasa digelar untuk merayakan hari raya Idul Fitri, Idul Adha, atau Maulid Nabi Muhammad SAW.

Akan tetapi, di Solo, Jawa Tengah, sejak lima tahun lalu, tradisi ini diadaptasi untuk merayakan Imlek atau Tahun Baru China. Sebagai ganti hasil bumi adalah kue keranjang yang dibentuk gunungan. Namun, belakangan, bentuk gunungan diubah menjadi pagoda bertingkat dengan dasar kue ranjang.

Gunungan diarak keliling melewati jalan-jalan utama di Kota Solo yang melingkupi Kelurahan Sudiroprajan di Kecamatan Jebres. Gunungan yang disusun dari 4.000 buah kue keranjang pada akhirnya diperebutkan para pengunjung yang berkerumun sejak awal acara yang berlokasi di kawasan Pasar Gede. Tak jauh dari panggung utama garebek berdiri Kelenteng Tian Kok Sie.

Selain menampilkan gunungan kue keranjang, acara ini juga menampilkan kelompok kesenian dan aktivitas warga Kelurahan Sudiroprajan, seperti kelompok liong dan barongsai, ibu-ibu PKK, dan kelompok seni Sudiro Setho. Ada pula kelompok tamu peserta kirab, seperti kesenian topeng ireng dari Boyolali. Total ada 2.000 orang terlibat sebagai penampil dalam kirab ini.

Uniknya, acara ini tak hanya melibatkan warga keturunan Tionghoa, tetapi juga warga suku Jawa di Kelurahan Sudiroprajan. Garebeg Sudiro telah menjadi acara milik bersama warga Kelurahan Sudiroprajan. Dalam sejarahnya, Sudiroprajan yang dulunya dikenal dengan nama Balong saat masa penjajahan Belanda dikondisikan sebagai kampung pecinan. Para migran dari China diarahkan untuk tinggal di Balong. Keturunan mereka hingga kini tinggal dan beranak-pinak di daerah itu yang kemudian berkembang jadi Kelurahan Sudiroprajan.

”Melalui acara ini, hubungan kami jadi lebih rekat, yang dulu tidak kenal jadi kenal. Saya sendiri jadi tahu, ternyata ada banyak potensi di daerah tempat tinggal saya, seperti kuliner dan budaya,” kata Y Rosalia Susanti (30) yang tinggal di RT 1/RW 1 Kampung Sudiroprajan, Kelurahan Sudiroprajan.

Staf Humas Kelenteng Tian Kok Sie, Ronnye Lian (55), menjelaskan, Garebeg Sudiro menjadi wujud nyata akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa, bukan dibuat-buat. Proses kegiatan ini menipiskan sekat hubungan antara warga keturunan Tionghoa dan pribumi. Ronnye yang memiliki nama Tionghoa Lian Hong Xian berharap akulturasi ini terus terjadi hingga mencapai satu titik di mana tidak ada lagi rasa berbeda.

”Oleh Pemerintah China sendiri, keturunan etnis Tionghoa di Indonesia bukan dianggap sebagai perantau dari China, melainkan sebagai salah satu suku di Indonesia. Demikian pula kami. Saya pribadi, sejak lahir, besar hingga menikah dan mempunyai anak cucu di Indonesia sehingga saya merasa sebagai orang Indonesia. Ini bukan mau saya, ini kehendak Tuhan,” kata Ronnye.

Wakil Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengatakan, meski memiliki potensi sebagai atraksi pariwisata, Garebeg Sudiro lebih dimanfaatkan untuk mendekatkan kebersamaan warga. Di sisi lain, acara ini juga mengangkat potensi warga, terutama di Kelurahan Sudiroprajan.

Ketua Panitia Garebeg Sudiro Yunanto Nugroho mengatakan, dalam sejarahnya di Kelurahan Sudiroprajan dulu terdapat banyak usaha kuliner, seperti bakpao, onde-onde, bolang-baling, cakwe, dan kue ranjang. Dengan kemunculan Garebeg Sudiro, beberapa usaha kuliner yang mati dihidupkan kembali.

Naga Kudus

Di Kabupaten Kudus, Jateng, anak muda Tionghoa setempat menekuni olahraga wushu sebagai salah satu upaya melestarikan tradisi Tionghoa. Lihat saja Vincenza Krysti Triadi (10), selalu memainkan jiun shu atau jurus pedang utara dengan indah. Siswi SD Cahaya Nur, Kudus, itu tidak jarang melayang di udara sembari menarikan pedangnya dengan lincah.

Tanpa pedang pun, bocah yang kerap dipanggil Zaza itu tetap piawai. Aneka kombinasi chang quan atau jurus tangan kosong dipraktikkan dengan kekuatan penuh.

Rekan seperguruannya, Galang Pratama (11), pun tak mau kalah. Siswa SD Negeri 03 Jati Kulon ini jago memainkan dau shu atau golok utara. Dia juga menguasai jurus tangan kosong selatan atau nian quan.

Keduanya merupakan murid perguruan wushu Pai He Quan atau Bangau Putih, Kudus. Zaza merupakan peraih Juara Harapan III jiun shu Kejuaraan Nasional Wushu 2011 dan Galang peraih Juara I nian quan Akademi Wushu Indonesia 2011.

Bersama rekan-rekan sebayanya, mereka berlatih di aula Kelenteng Hok Hien Bio atau Dewa Bumi, Kudus, Sabtu (14/1) sore. Pada tahap pertama, mereka berlatih wushu, tahap berikutnya berlatih barongsai dengan kelompok Satya Dharma Dragon yang berdiri pada 1999.

Pelatih wushu perguruan Bangau Putih, Harjana Wijaya atau Tjia Eng Bie, mengaku, wushu merupakan seni bela diri asal Tiongkok yang berusia ribuan tahun. Banyak orang yang menyebut wushu sebagai kungfu.

”Perguruan kami baru berdiri pada 25 Mei 2008. Ini didirikan untuk melestarikan seni bela diri kuno Tiongkok. Sebelum berkembang jadi perguruan, wushu ditekuni perorangan,” jelasnya.

Menurut Harjana, perguruan Bangau Putih terbuka bagi siapa saja. Yang turut berlatih tidak hanya keturunan Tionghoa, tetapi juga keturunan Jawa sehingga nilai-nilai saling menghargai keberagaman diterapkan.

Di Kudus, wushu dan silat merupakan dasar memainkan barongsai dengan sentuhan seni yang tinggi. Barongsai Kudus yang memadukan wushu dan silat itu pernah mencapai kejayaan pada 2002 dan 2003.

Pada 2002, tim barongsai Satya Dharma Dragon berada di peringkat sembilan dalam lomba barongsai tingkat internasional di Malaysia. Pada 2003 tim barongsai Satya Dharma Dragon menyabet Juara III lomba barongsai tingkat internasional di Padang. Setelah itu, prestasi merosot karena berbagai kendala.

Pelatih barongsai Satya Dharma Dragon Kudus, Nurkhan (34), mengemukakan, pemain barongsai tak bisa tetap. Setiap tahun sejumlah pemain pasti ada yang datang dan pergi, baik karena sekolah maupun bekerja di luar kota. Namun, tradisi ini pantas dilestarikan. (Kompas Cetak/Sri Rejeki/Hendriyo Widi)
 

Share :                
A   A   A
Beri komentar :
Nama
Email
Komentar
Kode
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
 
CLOSE[X]