

Palmerah, Wartakotalive.com
Dalam kehidupan tenis dunia, ”grand slam”, seri turnamen yang terdiri atas empat kejuaraan itu, adalah segalanya. Tak heran jika putri Belarus, Victoria ”Vika” Azarenka, tidak begitu saja memercayai apa yang dia lihat. Sorakan belasan ribu penonton yang dia dengar tatkala pukulan lawannya, Maria Sharapova, membentur jala pembatas dengan kerasnya, lalu jatuh ke lapangan sendiri. Bahkan, Azarenka seperti tidak memercayai reaksi tubuhnya sendiri, yang langsung bersimpuh di lapangan.
Itulah akhir partai puncak pada Grand Slam Australia Terbuka yang berlangsung di Flinders Park, Melbourne, Sabtu (28/1). Skor digital di tepi lapangan menuliskan angka 6-3, 6-0 bagi kemenangan Azarenka.
Dalam keadaan emosional seperti itu, Azarenka masih harus memalingkan wajahnya ke arah jajaran tempat duduk VIP di tepi arena, tempat kerabat dan kawan dekatnya berada.
”Apa yang terjadi?” tanyanya. Jawaban yang dia dapat pun tegas, ”Anda memenangi Australia Terbuka.”
Menjadi ratu di lapangan grand slam, apalagi untuk pertama kali, menjadi impian setiap mereka yang memainkan raket tenis sebagai karier, dan mungkin juga bagi mereka yang menekuni tenis sebagai sekadar hobi.
Ganjaran kemenangan di sini luar biasa. Azarenka, misalnya, dia tidak hanya memperoleh poin yang luar biasa besar. Poin yang cukup untuk mendongkrak posisinya sebagai petenis putri nomor satu sejagat. Tidak juga hanya hadiah utama yang luar biasa dahsyatnya, lebih dari Rp 20 miliar rupiah.
Azarenka juga sangat bisa berharap, nilai kontrak dari sponsornya bakal terdongkrak. Di samping itu, jumlah sponsornya pun bakal bertambah dari lima yang ada sekarang.
Namun, ganjaran paling membanggakan dari kemenangan itu bisa jadi adalah pengakuan dirinya sebagai pahlawan bangsa. Azarenka adalah petenis pertama Belarus yang meraih grand slam nomor tunggal putri.
Sebelumnya, Azarenka telah merebut gelar grand slam ganda campuran bersama Max Mirnyi pada AS Terbuka 2007, dan bersama Bob Bryan dalam Perancis Terbuka 2008.
Hanya beberapa saat setelah Azarenka menjadi juara, Pemerintah Belarus memutuskan untuk menganugerahi petenis berusia 22 tahun itu medali kehormatan, Order of Motherland.
”Vika (panggilan Azarenka), kamu adalah kebanggaan negeri. Tanah air terpukau dengan prestasimu. Prestasi yang menjadi bagian dari sejarah Belarus dan dunia olahraga,” kata Presiden Belarus Alexander Lukashenko dalam pernyataan resminya.
Paling cemerlang
Mulai berlatih tenis ketika berusia tujuh tahun di kota kelahirannya, Minsk, Azarenka menemukan bakatnya dengan cepat. Tujuh tahun kemudian, orangtuanya pun sepakat mengirim Azarenka agar dapat berlatih lebih serius di Arizona, Amerika Serikat (AS).
Hanya dalam waktu sekitar dua tahun, Azarenka menemukan dirinya sebagai petenis junior paling cemerlang pada tahun 2005. Pada tahun itu, dia menjadi juara putri junior pada Grand Slam Australia Terbuka, AS Terbuka, dan menjadi pemuncak dalam peringkat yunior dunia.
Namun, prestasi kemilau pada tingkat junior itu tidak serta-merta membuat Azarenka dapat langsung sukses ketika bermain pada gelanggang senior.
Dia harus merangkak, dan baru bisa meraih gelar Asosiasi Tenis Wanita (WTA) pada tahun 2009. Sesungguhnya, Azarenka mengukir peningkatan pencapaian dari tahun ke tahun.
Dia berada di 30 besar dunia tahun 2008, lalu menembus 10 besar setahun kemudian. Tahun lalu Azarenka berada dalam jajaran lima besar dunia.
”Meledak” di lapangan
Hanya saja, ada satu kekurangan yang dimiliki pemain bertubuh tinggi, cukup ramping tetapi berotot itu. Kekurangannya, Azarenka adalah petenis yang bisa ”meledak” di lapangan.
Ketenangan dan kontrol dirinya dapat langsung lumer. Pada masa lalu, pemain yang sebelum menjuarai Australia Terbuka ini belum pernah mencapai semifinal grand slam itu bisa memprotes keputusan pengadil berlama-lama. Dia bisa marah, dan jika itu terjadi, bentuk permainannya pun usai sudah.
Hingga beberapa waktu lalu, karena sifatnya itu, Azarenka dijuluki ”Madam Meltdown”. Namun, sifatnya itu jarang tampak belakangan ini, apalagi ketika dia berjuang di Melbourne. Seperti saat dia menghadapi juara bertahan Kim Clijsters, petenis asal Belgia, pada babak semifinal.
Begitu pula ketika Azarenka menghadapi petenis jelita asal Rusia, Maria Sharapova, pada laga final Australia Terbuka. Dia betul-betul tampil tenang, sabar, dan penuh perhitungan.
Di sisi lain, Azarenka termasuk atlet yang sangat menyukai mode. Oleh karena itu, dunia mode pun mencintainya sehingga dia kerap diundang untuk menghadiri berbagai acara peragaan busana.
Lalu, apa kunci keberhasilan Azarenka sehingga dia dapat menghilangkan kelabilan dan meningkatkan stabilitas emosinya?
Duet pelatih Sam Sumyk (teknik) dan Jean-Pierre Bruyere (fisik) ternyata punya siasat jitu. Kala musim turnamen berakhir, keduanya menggedor anak asuhnya itu dengan program latihan fisik yang ketat.
Alhasil, kekuatan Azarenka bertambah, kecepatan meningkat, dan koordinasinya pun kian tajam. Pendek kata, latihan yang dibuat duet pelatih Sam Sumyk dan Jean-Pierre Bruyere tersebut mampu mendongkrak semua parameter.
”Secara fisik, saya berada dalam kondisi terbaik saat ini. Keadaan ini sangat membantu aspek-aspek lain dalam permainan saya,” kata Azarenka seraya tersenyum.
Rupanya, formula sukses sang juara sederhana saja. Frustrasi, kemarahan, dan ketakutan itu datang bukan karena sifat seseorang. Semua itu terjadi karena orang tersebut belum menyiapkan diri sebaik mungkin saat menghadapi pekerjaannya. (Kompas Cetak/Yunas Santhani Azis/WTA)

VICTORIA AZARENKA
• Lahir: Minsk, Belarus, 31 Juli 1989
• Tinggi dan berat badan: 183 sentimeter dan 66 kilogram
• Keluarga: Anak pertama dari dua bersaudara. Sang ibu, Alla, adalah karyawan klub tenis di Belarus
• Masuk pro: tahun 2003
• Gelar WTA: total 10
• Gelar juara:
- Lahir: Sydney International, tahun 2012
- Grand Slam Australia Terbuka, Melbourne, tahun 2012
- Miami, Marbella, Luksemburg, tahun 2011
- Stanford, Moskwa, tahun 2010
- Brisbane, Memphis, Miami, tahun 2009
