• Selamat Datang
 
  • :  
  • Bisnis
  •   :  
  • Inspirasi Usaha
  •   :  
Rabu, 1 Februari 2012
Jadikan Rumput Laut Penggerak Ekonomi
Kompas/Khaerul Anwar  
Dibaca : 309 kali     Komentar: 0

Sumbawa, Wartakotalive.com

Jika ingin mengatasi kemiskinan, terutama di daerah pesisir, tidak perlu menjadi tenaga kerja keluar negeri, kembangkan rumput laut. Modalnya relatif kecil, gampang membudidayakannya, arealnya luas, pasarnya pun menjanjikan.

”Tidak usah bicara tinggi-tinggi, garap itu ’barang’ yang namanya rumput laut. Saya hakkul yakin rumput laut akan menjadi penggerak ekonomi sekaligus membantu rakyat yang berjuang demi menyambung hidup,” kata Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun saat berdialog dengan petani rumput laut Desa Labuhan Kertasari, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Jumat (20/1).

Menurut Alex, Indonesia adalah gugusan pulau yang menyediakan potensi besar sebagai ruang usaha yang mestinya membuat orang hidup bahagia. Tapi, untuk mewujudkan semua itu diperlukan semangat dan kemauan pantang menyerah, di samping ketulusan hati semua pihak, termasuk aparat, untuk total mengabdi kepada rakyat.

Alex mengaku sudah lama mendengar adanya budidaya rumput laut yang dilakukan masyarakat di Kabupaten Sumbawa Barat. Karena itu, dia sengaja datang ke daerah tersebut guna membuktikan informasi tersebut.

”Saya datang ke sini untuk melihat dan membuktikan apakah warga benar-benar menggeluti rumput laut,” kata Alex, yang dalam perjalanan masuk desa itu melihat sejumlah pembudidaya sibuk memanen rumput laut di perairan setempat.

Ada deretan para-para tempat komoditas tersebut dijemur di pinggir pantai, ada pula rumput laut dijemur beralaskan terpal plastik di jalan desa itu. ”Karenanya, saya sangat yakin komoditas rumput laut bisa menjadi mesin penggerak ekonomi kerakyatan,” ujar Alex seraya berjanji memberikan satu unit mesin Chips, yang segera direalisasikan tahun ini. Mesin itu untuk mengolah rumput laut kering menjadi setengah jadi, produk olahan (keraginan), bahan makanan dan kosmetik.

Belum optimal

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB Imam Maliki mengatakan, potensi areal budidaya rumput laut di NTB sekitar 25.000 hektar, tetapi sejauh ini baru 11.200 hektar yang dimanfaatkan. Timpangnya areal potensial dibandingkan dengan yang termanfaatkan terjadi di Desa Kertasari, sebagai sentra budidaya rumput laut.

Di Desa berjarak 10 kilometer utara Kota Taliwang, ibu kota Kabupaten Sumbawa Barat, melibatkan 1.086 warga. Menurut Slamet, Kepala Seksi Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perikanan Dinas Perikanan Sumbawa Barat, di Desa Kertasari khususnya baru 150 hektar yang dimanfaatkan dari total potensi 795 hektar. Sedang potensi areal budidaya rumput laut di wilayah Sumbawa Barat seluas 1.850 hektar, namun baru sekitar 3.700 hektar yang dimanfaatkan.

Budidaya raya rumput laut jenis katoni mulai digarap lebih intensif tahun 2000 di Desa Kertasari, dilakukan dengan sistem patok. Caranya, benih rumput digantungkan pada plastik, biasa dipakai pembungkus es batu, lalu dicantolkan pada rentangan tali rapiah yang menghubungkan empat patok. Benih tersebut diapungkan pada kedalaman tertentu, dan dipanen sekali selama 45 hari masa tanam.

Pada Januari, Februari, Maret April, Oktober, November, dan Desember adalah bulan baik untuk panen, diukur dari hasil panen dengan benih yang ditanam. ”Panenan bagus, hasilnya lima-enam kali, yang kurang baik hasilnya tiga kali dari jumlah benih yang dibudidayakan,” jelas Slamet. Artinya jika ditanam benih 100 kilogram, hasilnya 300 kilogram basah. Sekitar 993,78 ton produk rumput laut Desa Kertasari dikirim ke Mataram, Denpasar (Bali), Semarang (Jateng), dan Surbaya (Jatim).

Perlu ganti bibit

Hartono (32), petani rumput laut Desa Kertasari, mengaku, memiliki areal budidaya 10 meter x 10 meter. Awal Januari ini, dia berhasil memanen 600 kilogram basah, yang setelah dikeringkan menjadi sekitar 120 kilogram, kemudian 100 kilogram dijual, sisanya 20 kilogram disisihkan untuk bibit. Dari harga jual Rp 7.000 per kilogram kering, Hartono mengantongi Rp 700.000.

”Harga rumput laut tahun ini kurang bagus dibanding tahun 2010. Tapi, dari hasil penjualan rumput lain bisa kami dapatkan sebagai penghasilan tetap setiap bulan,” papar Hartono. Ia juga menambahkan, tahun 2010 harga rumput laut kering Rp 10.000 per kilogram.

Hanya saja, rumput laut jenis katoni yang dikembangkan di desa itu, menurut Cece Suryadi, pengusaha penampung komoditas perkebunan dan rumput laut di Mataram, perlu diganti dengan bibit baru varietas sama. Pasalnya, bibit rumput laut katoni yang telah dibudidayakan selama 20 tahun itu kini rentan penyakit sehingga menurunkan volume dan kualitas produksi.

Penyakit yang acap kali menyerang rumput laut ini, seperti diakui para petani, adalah ais-ais (bulu meong dalam bahasa etnis Samawa/bahasa Sumbawa). Serangan ini menyebabkan pucuk rumput memutih, lambat-laun rontok. ”Kalau selama proses pertumbuhannya sudah terkena serangan (ais-ais), terpaksa (rumput laut) dibuang sebab serangannya bisa menjalar ke yang lain,” tutur Hartono.

Rumput laut sesungguhnya menjadi satu dari tiga komoditas unggulan di Nusa Tenggara Barat, selain ternak sapi serta jagung. Untuk itu, berbagai kendala perlu segera ditanggulangi. (Kompas Cetak/KHAERUL ANWAR)
 

Share :                
A   A   A
Beri komentar :
Nama
Email
Komentar
Kode
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
 
CLOSE[X]