• Selamat Datang
 
  • :  
  • Jalan-Jalan
  •   :  
  • Kuliner News
  •   :  
Jumat, 3 Februari 2012
Waroeng Eddi Khas Semarang
Bahan Masakan Dipasok dari Semarang
 
Dibaca : 516 kali     Komentar: 0

Jakarta, Wartakotalive.com

Semarang terkenal dengan wisata kulinernya. Tapi, Anda tak perlu jauh-jauh memburu makanan-makanan enak itu ke Semarang. Cukup ke Waroeng Eddi Masakan Khas Semarang, maka segala kerinduan akan Kota Semarang bisa terobati.

Sesuai dengan namanya, Waroeng Eddi Masakan Khas Semarang, warung ini menyediakan olahan masakan khas Semarang. Warung ini terletak di Jalan Pesanggarahan Raya No 8A, Puri Kembangan, Jakarta Barat. Sajian hidangan di warung ini dijamin membuat Anda tak sabar ingin menyantapnya.

Waroeng Eddi Masakan Khas Semarang menyajikan menu khas Jawa Tengah, seperti nasi ayam/liwet semarang dan krecek, bandeng kuah duri lunak, bestik galantin, ngohyong semarang, lumpia semarang, cuan-cuan blanak kuah tauco, dan masih banyak lagi.

"Hampir semua makanan di sini favorit, tapi kebanyakan konsumen sukanya bestik galantin dan bandeng kuah duri lunak," kata pemilik Waroeng Eddi Masakan Khas Semarang, Eddi, saat ditemui Warta Kota, di warung makannya, belum lama ini.

Tujuh tahun sudah Edward Boedhi Winoto—nama lengkap Eddi—membuka usaha kuliner. Awalnya, Eddi membuka warung makan miliknya dengan mengontrak sebuah kios di daerah ITC Kuningan tahun 2005. Namun, biaya sewa kios yang mahal membuat Eddi menutup warung makannya. Dia hanya bertahan setahun di pusat perbelanjaan itu.

Menurutnya, ada sekitar 56 jenis makanan yang disediakannya, termasuk mi jawa. Dia juga menghidangkan berbagai jenis minuman, seperti es campur ala gang lombok yang berisi irisan mangga segar.Minuman lainnya yang disediakan Eddi, seperti es tape ketan muntilan, sari asem, limun kawis dewa burung, es sirup merk kartika semarang.

Saat Warta Kota mengunjungi warung yang dihiasi wayang dan patung loro blonyo—patung berupa pasangan suami-istri berbusana tradisional Jawa— Eddi menyuguhkan satu menu legendaris yang dipelajarinya dari sang nenek, yaitu cuan-cuan belanak kuah tauco. Saat disajikan, menu yang bahan utamanya ikan belanak ini sudah menggugah selera. Setelah menyentuh lidah, saya tak berhenti menyantapnya sampai hidangan tandas. Perut pun jadi ketagihan mencerna ikan laut yang lembut dan kuahnya yang gurih ini.

Lelaki kelahiran Semarang, 9 Oktober 1967, ini memang tak muluk-muluk menjanjikan kenikmatan makanan bagi pelanggannya. Dia juga menjamin, olahan kulinernya itu semua dari tangannya berdasarkan resep dan bahan asli dari tanah kelahirannya.

"Semua bahan seperti ikan belanak, rebung, koyor (urat sapi), sirup, saus petis, sampai kulit lumpia sekalipun, saya datangkan langsung dari Semarang. Hasilnya, silakan dicoba, Sekali coba pasti suka," katanya. Dia juga menyajikan kesegaran dari olahan masakannya, karena bahan-bahan masakannya itu dipasok dari Semarang satu minggu sekali.

Eddi mengklaim, soal rasa di warung makannya berani bersaing dengan warung atau restoran lain di Jakarta. Tapi, khusus warung makan yang menyajikan makanan asli khas Semarang tak ada bandingannya di Jakarta, karena, kata Eddi, masakan itu hanya ada di warungnya. "Saya bisa katakan, Waroeng Eddi adalah warung khas Semarang satu-satunya di Jakarta. Soal rasa boleh ditandingi dengan yang lain, kualitas pun terjamin," ucapnya.

Selain menyajikan daftar menu masakan, Eddi juga melampirkan harga di samping daftar menu masakannya. "Dengan uang Rp 20.000 saja, orang sudah bisa makan nasi dengan lauk yang tidak mengecewakan. Karena, harga yang kami tawarkan juga sangat terjangkau," ujar Eddi.

Untuk cuan-cuan belanak kuah tauco saja, Eddi membanderol Rp 22.000 per porsi. Atau bestik galantin yang berisi irisan daging cincang dibentuk bulat dengan potongan standar dipatok Rp 14.000 per porsi. Makanan termurah dijual Eddi dengan harga Rp 3.500, yakni telor pindang. Sedangkan harga makanan yang paling mahal yang disajikannya, yaini sop buntut Rp 27.500 per porsi.

Dijamin halal

Agar pelanggannya memiliki banyak pilihan, Eddi juga menghidangkan makanan bukan khas Semarang, seperti bebek peking. "Memang ada beberapa yang bukan makanan asli Semarang, seperti bebek peking. Cuma sebagai pelengkap saja," ucapnya.

Menurut Eddi, masih ada makanan khas Semarang yang mengolah makanannya dengan daging babi. Tapi, di warungnya, dia menyajikan makanan halal, tidak mengandung unsur babi atau olahannya. "Boleh cek di laboratorium. Saya tidak menggunakan daging babi, karena pelanggan saya beragam, tidak hanya non-Muslim tetapi juga ibu-ibu berjilbab sering makan di sini. Jadi, saya hanya menggunakan ayam dan daging sapi, dijamin 100 persen halal," katanya menandaskan.

Setiap hari Waroeng Eddi dibuka mulai pukul pukul 09.00-21.00. Menurutnya, di warungnya paling ramai dikunjungi pelanggan pada hari libur dan Minggu. Bahkan, saking ingin segera melahap masakannya, ada pelanggannya datang sebelum Eddi dan karyawannya merapikan seluruh warungnya. Mereka datang setengah jam sebelum warungnya dibuka.

"Biasanya jam 08.30 sudah ada yang datang, kebanyakan baru pulang dari gereja. Kalau makanan sudah matang, biasanya langsung kami sajikan, tapi kalau belum, ya terpaksa menunggu," katanya.

Waroeng Eddi pertama kali dibuka tahun 2010. Rumah makan itu memiliki dua ruangan yang kapasitasnya bisa menampung pelanggan 60 orang. Para tamunya itu bisa menyantap masakannya dengan nyaman, karena satu ruangan diberi pendingin AC. Sedangkan satu ruang lainnya tidak memakai pendingin yang diberi nama Waroeng Sate Sapi Ungaran. "Sama saja, satu tempat juga. Karena baru buka, jadi konsumen lagi banyak yang pesan satai. Menu khususnya yang paling diminati satai sapi dengan daging has dalam, babat, usus, ati, koyor, paru, ginjal, kapur, yang disajikan per 10 tusuk. Harganya cuma Rp 27.000," katanya.

Gemar memasak

Eddie mengawali kegemarannya memasak saat usianya 15 tahun. Kala itu, Eddi dihadapkan pada kondisi keluarganya. Dia harus tetap bersekolah sambil membantu usaha ibunya yang berbisnis katering keluarga. "Ayah saya ketika itu sudah meninggal, jadi mau tidak mau saya harus cari cara untuk membantu ibu. Akhirnya keterusan," tuturnya seraya tersenyum.

Sejak lulus dari Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Dipenogoro, Eddi mengadu nasib di Jakarta. Dia bekerja di perusahaan swasta. "Hampir 13 tahun saya jadi pekerja kantoran. Sampai akhirnya saya putuskan berhenti dan mencari pekerjaan yang memang saya sukai, yaitu membuka usaha kuliner," katanya.

Meski pada tahun pertama usahanya itu belum membuahkan hasil. Tapi, Eddi tidak putus asa. "Kalau usaha kuliner, keuntungan itu bukan nomor satu, tapi bagaimana kita menyajikan suguhan makanan yang enak agar pelanggan puas. Jadi, ya jalani saja, tapi ya puji Tuhan, sejauh ini lancar," ucapnya. (vin)

Share :                
A   A   A
Beri komentar :
Nama
Email
Komentar
Kode
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
 
CLOSE[X]