• Selamat Datang
 
  • Warta
  •   :  
Minggu, 5 Februari 2012
Jejak Nasionalisme di Ende
Menemukan Indonesia
Bagian 1
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN  
Dibaca : 407 kali     Komentar: 0

Palmerah, Wartakotalive.com

Membangun Indonesia tak sekadar peristiwa semalam saat penyusunan naskah Proklamasi tahun 1945. Indonesia dibangun jauh sebelumnya, dengan cita-cita, gagasan, semangat, kerja keras, darah, dan jiwa raga. Jejak-jejak keindonesiaan masih tampak jelas hingga hari ini. Apakah ia sekadar menjadi warisan masa lalu atau justru menjadi cermin hidup yang mampu menjaga keindonesiaan kita saat ini dan masa depan? Dalam konteks itulah, setiap bulan ”Kompas” akan menurunkan laporan ”jejak nasionalisme”, dan yang perdana ini dimulai dari Ende.

Wajah Indonesia yang 66 tahun ini adalah wajah yang tampak letih. Kekerasan menjadi racun yang mengancam fondasi keindonesiaan. Konflik komunal menjadi ancaman yang merusak sendi-sendi masyarakat yang multikultur. Ketika kekerasan dan konflik komunal merobek jati diri bangsa, kehidupan penuh toleran masih terasa kental di Ende.

Ende adalah sebuah kota yang terletak persis di tengah-tengah Pulau Flores. Di kota ini ada situs sejarah, yaitu rumah Bung Karno ketika diasingkan sejak 14 Januari 1934 sampai 18 Oktober 1938. Situs yang terletak di Jalan Perwira itu juga menjadi penanda keindonesiaan di Ende. Salah satu ciri Indonesia adalah harmoni dalam kebinekaan.

Berjarak sekitar 500 meter dari situs itu berdiri kokoh patung Kristus Raja, yang menjadi simbol Paroki Katedral Ende. Gereja yang pembangunannya diawali dengan peletakan batu pertama pada 18 Mei 1930 itu menjadi saksi jejak kehidupan Bung Karno selama menjalani masa pembuangan di Ende.

Dalam buku Membangun Komunitas Pelayanan: Kenangan 75 Tahun Paroki Kristus Raja Katedral Ende tahun 2002 terpampang foto Bung Karno setelah menjadi presiden melakukan kunjungan pertama ke Ende tahun 1950. Dalam foto itu tampak Bung Karno di Paroki Katedral sedang berbincang-bincang, diapit dua pastor dari tarekat Katolik Serikat Sabda Allah (SVD), yakni Pater G Huijtink SVD dan Pater A Thijssen SVD.

Kunjungan Bung Karno ke Paroki Katedral itu menunjukkan karakter kesederhanaan dalam sebuah persahabatan yang tak kenal batas primordialisme seperti etnik, ras, atau agama. Setelah menjadi presiden, Bung Karno tak lupa mengunjungi sahabat-sahabat lamanya saat diasingkan di Ende. Ketika menginjakkan kaki di Ende, 14 Januari 1934, Bung Karno benar-benar kesepian dan terasing. Bayangkan saja, tidak semua warga Ende mau menerima atau berhubungan dengan Bung Karno. Pemerintah kolonial Belanda mengecap Bung Karno sebagai orang yang berbahaya, tahanan politik atau orang buangan yang harus dihindari oleh warga.

Nyaris tiada yang mau mendekat, terutama kalangan bangsawan atau pegawai pemerintah yang bisa jadi merasa terancam dengan kehadiran Bung Karno atau takut kehilangan jabatan atau kekuasaan jika dekat dengan Bung Karno. Kalangan yang mau menerima Bung Karno adalah kalangan pastor, juga masyarakat suku Rodja, etnik Ende, yang tinggal sekitar 1,5 kilometer dari rumah pengasingannya. Dalam kumpulan Kesan Bung Karno di Ende yang disusun Djae Bara, sahabat Bung Karno, disebutkan, Bung Karno adalah sosok yang pandai bergaul dengan warga dari berbagai etnik.

”Bung Karno sering berkunjung ke Misi (Paroki Katedral) tiap Sabtu atau Minggu. Beliau dekat dengan para pastor dari luar negeri karena beliau pintar berbahasa asing,” kata Umar Gani (94), satu-satunya pemain tonil Bung Karno yang masih hidup saat ditemui di rumahnya, awal Januari lalu. ”Bung Karno memang dekat dengan Pastor Huijtink. Dialah yang memberi buku-buku Bung Karno,” kata Agil Parera Ambuwaru, tokoh masyarakat Ende.

Toleransi

Hubungan baik Bung Karno dengan warga berlatar beragam etnik dan lintas agama itu memperlihatkan indahnya rajutan toleransi dan relasi masyarakat yang multikultur. Indahnya jalinan toleransi itu masih tetap lestari di Ende sampai hari ini. Agil yang anggota DPRD Kabupaten Ende periode 2004-2009 mengatakan, kuatnya toleransi antarumat beragama di Ende tak lepas dari kuatnya hubungan darah ataupun adat.

”Masyarakat di sini (Ende) lebih banyak melihat faktor hubungan darah karena hubungan keluarga dalam adat sudah berlangsung lebih dulu sebelum agama masuk. Masyarakat Ende juga sudah berbaur dengan kawin-mawin, dan ini menjadi kekuatan yang besar. Kalaupun ada perbedaan, sifatnya terselubung dan itu pun karena kepentingan politik atau proyek. Namun, kalaupun terjadi perbedaan atau keributan kecil, cepat diredam oleh tokoh agama dan masyarakat,” kata Agil.

Menurut Agil, keindahan toleransi dan kerukunan umat beragama di Ende dapat dilihat sampai saat ini, misal ketika umat Katolik dan Protestan merayakan Natal, umat Islam berkunjung ke rumah mereka, begitu pula sebaliknya ketika umat Islam merayakan Idul Fitri. Pemahaman seperti itulah yang mengakibatkan konflik bermotif agama tidak pernah menyentuh Ende. ”Saat Sambut Baru (pe-rayaan umat Katolik menerima komuni suci pertama), saya biasa menerima 20-30 undangan, dan mengunjungi keluarga yang merayakannya,” kata Agil.

Kuatnya toleransi umat beragama di Ende yang kini berpenduduk 250.000 jiwa, ujar budayawan Ende, Maria Matildis Banda, dipengaruhi pula oleh momentum acara adat yang sering melibatkan etnik Lio dan Ende sebagai etnik terbesar di kabupaten itu. Etnik Lio yang umumnya bermukim di dataran tinggi mayoritas beragama Katolik, sedangkan etnik Ende yang umumnya tinggal di kawasan pesisir dominan beragama Islam.

Sampai kini masyarakat etnik Lio dengan warga pesisir dapat hidup rukun dan berdampingan dengan dilandasi sikap saling menghargai dan menghormati. Mereka yang tinggal di pesisir di antaranya berasal dari Bima, Makassar, Bone, Selayar, Jeneponto, Jawa, dan Bali. Bahkan, seperti Pulau Ende, yang berpenduduk 8.000 jiwa, seluruhnya beragama Islam, tetapi mereka dapat hidup rukun dengan pemeluk agama lain di Ende.

Tak mengherankan toleransi di Ende membuat decak kagum pendatang. ”Toleransinya sangat baik. Menurut saya, Ende miniatur Indonesia,” kata Ulinuha (24), lulusan Universitas Muria Kudus yang mengajar di SMAN 1 Ende dalam program sarjana mengajar di daerah terdepan. Paulus Budi Kleden, pengamat dari Seminari Tinggi St Paulus Ledalero, Maumere, mengatakan, membangun harmoni di Ende itu tidaklah mudah karena di daerah lain konflik justru sangat marak. ”Tetapi, kita masih membutuhkan Indonesia,” katanya.

Dalam masalah agama, Bung Karno bersikap toleran, yang tentu tak lepas dari latar belakang adat dan budayanya. Menurut sejarawan Bernhard Dahm (Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan, 1987), ibu Bung Karno berasal dari Bali yang tentu saja terasa kuat tradisi Hindu, kemudian mendapat pengaruh sinkretisme kultural Jawa. Dalam setiap pidatonya, Bung Karno senang sekali mengangkat perbandingan-perbandingan dari berbagai agama dan kepercayaan, mengemukakan tamsil-tamsil dari Islam, Kristen, Buddha, dan lain-lain.

Di Ende pula Bung Karno lebih mendalami Islam, yaitu melalui korespondensinya dengan guru Persatuan Islam (Persis) Bandung, Ustadz A Hassan. Namun, ia pun tak menyembunyikan rasa respeknya kepada para misionaris di Ende yang dinilainya bekerja keras tanpa lelah. Pemahamannya yang toleran dan moderat makin menguatkan pandangan mengenai nasionalisme, Islamisme, dan sosialisme (Marxisme) yang diungkapkannya pada tahun 1926.

Nasionalisme, menurut filsuf Ernest Renan (1823-1892), merupakan jiwa yang dipengaruhi kesamaan sejarah, nasib, untuk hidup bersama (le desir de vivre ensemble). Nasionalisme sesungguhnya suatu kondisi subyektif, yang tidak bisa diukur hanya dengan faktor-faktor obyektif seperti budaya, bahasa, ras, etnik, agama, wilayah, dan lain-lain. Bagi Renan, faktor-faktor obyektif itu justru bukan faktor pembentuk (consttuief element) sebuah bangsa, melainkan sebagai faktor pendorong saja. Maka, ketika di banyak daerah marak konflik komunal mengancam kohesi bangsa, di Ende kita menemukan Indonesia. (Kompas Cetak/Samuel Oktora/Subhan SD)

 

Share :                
A   A   A
Beri komentar :
Nama
Email
Komentar
Kode
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
 
Topik: JEJAK NASIONALISME DI ENDE
  • Sepenggal Kisah Patriot di Ende
    ”...Ingatlah, di Sukamiskin tubuhku di penjara. Di sini aku diasingkan dari manusia, dari orang-orang yang dapat memperdebatkan tugas hidupku. Mereka yang mengerti, takut untuk berbicara. Mereka yang mau berbicara, tidak mengerti. Inilah tujuan sebenarnya dari pembuangan ini....”
  • Tak Henti Mendidik Bangsa
    Sekolah Dasar Inpres Tiwerea, di Desa Tiwerea, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, sungguh memprihatinkan. Tiga kelas dicampur dalam satu ruangan. Siswa kelas II harus belajar bersama siswa kelas III dan IV. Walau tak banyak berarti, papan tulis dan lemari buku dijadikan sekat pembatas.
  • Pemimpin Itu Tak Berjarak dengan Rakyat
    Pelabuhan Ende, Pulau Flores, 18 Oktober 1938. Malam hari pukul 20.00, yang biasanya gelap-gulita, berubah gempita. Warga Ende tumpah di dermaga kayu, setelah kapal De Klerk bersandar menjemput Bung Karno yang terserang malaria, untuk dipindah- kan ke Bengkulu. Berat hati, warga Ende melepas Bung Karno dengan linangan air mata.
  • Situs Bung Karno Tetap Terpencilkah?
 
CLOSE[X]