• Selamat Datang
 
  • :  
  • Seks & Seksi
  •   :  
  • Bugar
  •   :  
Minggu, 5 Februari 2012
Ramuan Madura Tak Seharum Namanya
KOMPAS/DAHLIA IRAWATI  
Dibaca : 976 kali     Komentar: 0

Palmerah, Wartakotalive.com

Ramuan Madura. Apa yang Anda pikirkan saat mendengarnya? Bagi yang belum kenal, apalagi merasakan khasiatnya, mungkin yang terbayang hanya berupa jamu tradisional seperti yang beredar di pasaran. Padahal, bagi yang sudah tahu dan merasakan khasiatnya pasti tersenyum bahagia.

Ya, ramuan Madura memang sama seperti jamu umumnya, cuma khasiatnya tak jauh dari urusan keharmonisan pasangan suami istri. Jenis ramuan pun beragam, antara lain, jamu rapet wangi, sehat lelaki dan wanita, jamu kemanten, jamu empot-empot, jamu butiran mutiara nikmat surga, dan tongkat wasiat Madura.

Jamu untuk kesehatan tubuh, seperti diabetes, pun ada, termasuk menyuburkan kandungan bagi perempuan yang sulit memperoleh keturunan.

Semua ramuan Madura tersebut ada yang disajikan dengan diseduh langsung ataupun diminum di tempat. Ada juga berupa pil dan kapsul untuk diminum secara rutin.

”Jamu buatan saya untuk kesehatan pria dan wanita. Semua dibuat dari bahan herbal, seperti dedaunan dan akar-akaran, di sekitar Pulau Madura. Tanpa bahan kimia, karena jika menggunakan zat kimia, selain mendongkrak harga jual, juga berbahaya bagi tubuh manusia,” tutur Badrijah, pembuat ramuan Madura asal Bangkalan, Jawa Timur.

Rata-rata pelanggan ramuan Madura hasil racikan Badrijah berminat dengan jamu sehat perkasa, jamu rapet, dan jamu empot-empot. Jamu sehat perkasa untuk mengobati stamina pria yang lemah dan menderita impoten. Adapun jamu empot- empot dipercaya berkhasiat mengembalikan kesehatan alat kewanitaan sehingga kembali seperti perawan.

Yayuk Suaibah (39), pembuat jamu asal Pamekasan, menuturkan, bagi orang Arab-Madura sepertinya jika tidak minum jamu, badan rasanya tidak enak, terasa lemas. Itu sebabnya, sejak umur 12 tahun, ia sudah terbiasa minum jamu buatan ibunya.

Menurut dia, minum jamu bagi orang Madura sudah seperti budaya. Sejak kecil, orangtua sudah memperkenalkan jamu kepada anaknya. Dengan sedikit ”memaksa”, secara perlahan anak-anak suka minum jamu.

”Kami sudah dibiasakan minum jamu, mulai dari jamu doyan makan saat masih kecil, jamu mencegah keputihan saat remaja, jamu kemanten saat hendak menikah, jamu lahir seusai melahirkan, hingga ramuan lain. Intinya, orang Madura memang sudah terbiasa minum jamu sejak kecil hingga tua,” kata perempuan yang kerap dipanggil Ayu itu.

Ayu mengaku setelah melahirkan, perempuan Madura, termasuk dirinya, harus minum jamu selama lebih kurang 45-60 hari.

Rutin minum ramuan Madura, yang umumnya diracik sendiri di rumah, secara perlahan juga menurunkan ilmu membuat ramuan menggunakan berbagai ragam pohon, daun, dan rempah-rempah.

Jangan heran jika rata-rata perempuan asal ”Pulau Garam” itu rajin minum ramuan tradisional buatan sendiri. Mereka juga umumnya pintar membuat ramuan untuk berbagai khasiat bagi tubuh.

Kini, sudah 10 tahun Ayu menggeluti bisnis pembuatan dan pemasaran ramuan Madura hingga ke luar Pulau Madura.

Salah satu jamu yang dijualnya adalah jamu butiran mutiara nikmat surga. Butiran kecil jamu mirip pil bulat ini penggunaannya dimasukkan dalam alat kewanitaan dan akan lebur di dalam.

Khasiatnya dipercaya membuat hubungan suami-istri semakin mesra, meski sudah melahirkan secara normal. Demikian Ayu berpromosi.

Tongkat wasiat

Lain di Bangkalan dan Pamekasan, salah seorang pembuat jamu terkenal di Sumenep, Hj Tusmiyati Ummi Kalsum, terkenal dengan ramuannya berupa tongkat wasiat Madura.

Tongkat warna coklat sepanjang lebih kurang 10 sentimeter itu bukan sembarang tongkat. Tongkat merupakan ramuan Madura yang dipadatkan menjadi tongkat.

Penggunaannya agak aneh, dimasukkan ke alat kewanitaan selama 10 menit untuk kemudian dibersihkan dan digunakan lagi lain waktu hingga tongkat ini terus mengecil dan akhirnya habis. ”Khasiatnya, yaitu menyerap lendir-lendir di sekitar alat kelamin yang agak mengganggu kaum hawa,” ujarnya.

Memang ahli medis melarang memasukkan sesuatu ke alat kewanitaan. ”Realitasnya, selama ini ramuan yang saya racik dan digunakan konsumen tidak bermasalah, bahkan paling dicari orang,” ujar Tusmiyati.

Pembeli tongkat wasiatnya, menurut perempuan itu, mulai dari pejabat hingga orang biasa, dari tetangga hingga konsumen dari luar Pulau Jawa sampai luar negeri. Bagi Tusmiyati, mendengar pelanggannya puas dengan ramuan buatannya merupakan kepuasan batin yang tiada tara.

Terbatas

Beragam jamu itu memang sudah jamak ditemui di setiap kios atau rumah di Pulau Madura. Bisa dibilang, jamu apa saja bisa mereka racik hingga tersohor ke seantero negeri.

Memang khasiat ramuan Madura sudah sangat dikenal di mana-mana. Cuma produknya tidak ke mana-mana karena hanya beredar di wilayah Madura.

”Tidak gampang mencari ramuan Madura di luar Pulau Madura, kemungkinan karena belum banyak pelaku usaha yang produknya sudah diuji oleh instansi kesehatan,” kata Nurhayati, pembuat jamu sekaligus penggagas Paguyuban Jamu Arek Lancor Pamekasan.

Memang rata-rata para pembuat ramuan Madura berjualan secara tradisional. Mereka membuat ramuan di rumah masing-masing dan dijajakan di kios. Bahkan, pemasaran hanya dari rumah.

Rata-rata pembeli datang ke kios atau ke rumah untuk beli jamu. ”Kalau cocok, kemudian mereka minta dikirim ulang. Sebab sulit memperoleh ramuan serupa di luar Madura,” kata Nurhayati.

Pembuat ramuan Madura mengaku kalah dengan jamu pabrikan yang didukung modal besar. Jamu pabrikan bisa menyetor jamu ke mana-mana dan memiliki stok banyak di gudang.

Sementara ramuan Madura, yang hanya diproduksi di rumah, tidak pernah mempersiapkan stok. Ramuan hanya dibuat jika ada permintaan, dan volumenya tidak banyak, karena keterbatasan modal.

Kesulitan lain, pembuat jamu sulit mengakses perizinan ke beberapa instansi pemerintah, seperti dinas kesehatan, perdagangan, perindustrian dan mengurus hak atas kekayaan intelektual.

Sebagai industri rumahan kecil dengan harga jamu Rp 5.000-25.000 per jamu, mereka mengaku sulit memenuhi beberapa kriteria perizinan. Selain membutuhkan biaya mahal, dibutuhkan juga waktu lama. Akhirnya pembuat jamu hanya mengantongi izin usaha perdagangan.

Selama ini Nurhayati merasa berjalan sendiri dalam memasarkan produknya. ”Kami ikut membuat Madura terkenal lewat ramuan tradisional. Namun, sepertinya pelaku usaha kecil berjuang sendirian, tanpa dukungan pemerintah, baik perizinan maupun pemasaran,” ujarnya.

Keinginan menduniakan ramuan Madura, Nurhayati pernah menjajal upaya kerja sama dengan pelaku usaha dari negeri jiran Malaysia. Hasilnya, tahun 1998, sebagian resepnya malah dijiplak dengan iming-iming kerja sama, yang hingga kini tak kunjung ada.

Kepala Seksi Bina UKM Dinas Koperasi dan UKM Pamekasan Satinah mengatakan, selama ini pihaknya bekerja sama dengan Dinas Perindustrian Pamekasan dan Provinsi Jatim berusaha mengangkat ramuan Madura ke tingkat nasional.

”Kami sudah mengajak promosi ke beberapa daerah di Tanah Air. Ada bantuan mesin dari dinas perindustrian dan perdagangan, pelatihan pemasaran, serta membuat kemasan ramuan agar menarik. Sebenarnya ramuan Madura makin tersohor hingga ke negeri jiran.

Paling penting, melestarikan sekaligus mengembangkan racikan perempuan Madura dengan memberi perhatian bagi pelaku usahanya. Akankah ramuan Madura yang sudah tenar akan khasiatnya mudah diperoleh di pasaran lokal di negeri ini? Jangan sampai karena ketidakpedulian, kelak ramuan Madura tinggal nama, tetapi tak tampak wujudnya. (Kompas Cetak/Dahlia Irawati)
 

Share :                
A   A   A
Beri komentar :
Nama
Email
Komentar
Kode
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
 
CLOSE[X]