

Balai Kota, Wartakotalive.com
Pusat perbelanjaan atau mal di Jakarta sudah tumbuh di luar kendali. Banyak wilayah yang semula tidak direncanakan menjadi kawasan bisnis telah beralih fungsi menjadi kawasan komersial.
Salah satunya Jalan Prof Dr Satrio, Setiabudi, Jakarta Selatan. Jangan kaget kalau kawasan ini bakal lebih padat lagi. Pasalnya, beberapa pusat perbelanjaan baru akan dibuka pada 2012 ini.
Pusat perbelanjaan baru itu antara lain Kota Kasablanka, Ciputra World, dan Kuningan City.
Saat ini saja, dengan keberadaan Mal Ambassador dan ITC Kuningan, lalu lintas di Jalan Satrio sudah sangat padat.
Banyaknya taksi dan angkutan kota yang ngetem di depan Mal Ambassador menjadi penyebab utama tersendatnya lalu lintas. Ditambah lagi dengan parkir liar sepeda motor dan adanya proyek pembangunan Jalan Layang Nontol Kampungmelayu-Tanahabang yang sedang dalam proses konstruksi.
Banyaknya pejalan kaki yang menyeberang juga menjadi faktor penyebab tersendatnya arus lalu lintas di sana. Proyek Kuningan City, di sisi utara Jalan Satrio atau sederet dengan Mal Ambasador, juga menjadi penyumbang kemacetan.
Demikian pula dengan proyek Kota Kasablanka yang berada di samping TPU Mentengpulo, juga di sisi utara atau sisi ruas jalan menuju Kampungmelayu. Sementara proyek besar Ciputra World berada di sisi selatan Jalan Satrio atau di sisi ruas jalan yang mengarah ke Tanahabang. Menurut rencana, Ciputra World akan memiliki luas lahan 78.000 meter persegi.
Selain kawasan Setiabudi, wilayah perumahan elit Pondok Indah, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, juga diperkirakan akan mengalami kemacetan yang lebih parah karena saat ini tengah dibangun Pondok Indah Street Gallery, yang direncanakan memiliki luas 9.100 meter persegi. Lokasi pembangunan yang bersebelahan dengan Pondok Indah Mall ini pun masih dalam pekerjaan konstruksi.
Padahal, dengan adanya Pondok Indah Mall saja antrean kendaraan yang keluar-masuk pusat perbelanjaan ini sudah membuat arus lalu lintas tersendat.
Pengamat tata kota Nirwono Yoga mengatakan, masih akan dibangunnya pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta itu harus mendapat perhatian Gubernur Fauzi Bowo. Bahkan jika perlu, para pengembang yang sudah mengantongi izin pembangunan mal itu diminta membatalkan atau menunda pembangunan. "Gubernur harus menghentikan pembangunan mal itu, " ujarnya kepada Warta Kota, pekan lalu.
Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta Handaka Santosa mengatakan, adanya mal-mal baru itu merupakan kebutuhan di Jakarta. Karena, tingkat pendapatan perkapita warga Jakarta mencapai 10.000 dolar AS. Tingginya pendapatan ini otomatis membuat daya beli warga Jakarta sangat tinggi, dan ini memungkinkan mereka belanja ke negara tetangga. Terlebih, biaya bepergian ke negara tetangga seperti Singapura semakin lama semakin murah.
"Kami mengantisipasi banyaknya warga Jakarta yang belanja ke negara lain untuk mencari barang merek terkenal yang tidak ada di Indonesia. Kalau semua barang merek terkenal sudah terpampang di mal-mal di Jakarta, maka putaran uang itu dapat direalisasikan di Jakarta," kata Handaka.
Direktur lembaga riset Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan, terdapat 21 mal yang akan dibangun di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Depok (Jabodetabek).
Mal-mal yang akan diselesaikan tahun ini antara lain Kemang Village, Menteng Square, Kota Kasablanka, Pulomas X-'Venture, Ciputra World Jakarta, dan Pondok Indah Street Gallery.
Ferry mengatakan, empat pusat ritel gaya hidup dan hiburan resmi dibuka di kuartal terakhir 2011, dengan tambahan area 107.000 meter persegi ruang ritel. "Total ruang ritel tahun 2011 sebanyak 255.693 meter persegi di Jakarta dan Bodetabek, jauh lebih tinggi daripada tahun sebelumnya yang 166.006 meter persegi," ujarnya.
Dikatakannya, pada tahun 2012 pasokan ruang pusat belanja secara kumulatif akan tumbuh sebesar 5,6 persen dengan ruang ritel baru sebanyak 335.456 meter persegi.
Menurut Kepala Dinas Perhubungan Udar Pristono, keberadaan pusat-pusat perbelanjaan sudah pasti mengundang kehadiran kendaraan-kendaraan bermotor. Kegiatan keluar-masuknya kendaraan mau tak mau akan memengaruhi kondisi lalu lintas di sekitarnya. Namun ada juga positifnya, yakni pembangunan mal baru yang tersebar akan bisa membuat persebaran kepadatan lalu lintas. "Contohnya dengan terbangunnya kawasan Pondok Indah, di Senayan menjadi tidak terlalu ramai lagi," kata Pristono di gedung Dinas Teknis, Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat.
Dikatakannya, mal-mal baru itu harus memiliki inlet yang tidak siku atau jalur patah, namun harus memiliki lajur perlambatan. "Setiap pembangunan pusat belanja pasti sudah ada kajian lalu lintasnya. Dalam penerbitan SIPPT (surat izin penunjukan pemanfaatan tanah—Red), salah satu syaratnya adalah pemohon melengkapi kajian lalu lintas," ujar Pristono.
Sebelum SIPPT keluar, kata Pristono, Dishub DKI sudah merekomendasikan para pengembang terkait hal-hal yang penting untuk mengatasi masalah lalu lintas yang akan timbul. Kajian lalu lintas itu antara lain berisi prasarana seperti inlet-outlet (jalur masuk dan keluar), kapasitas lahan parkir, trotoar, tempat penyeberangan orang, tempat mengambil karcis parkir, dan tempat pemeriksaan keamanan mobil.
"Jadi, mal-mal baru itu belum tentu menimbulkan masalah baru dalam hal lalu lintas, justru bisa membuat persebaran keramaian," ujarnya. (sab)

