• Selamat Datang
 
  • :  
  • Kriminal
  •   :  
  • Warta Kriminal
  •   :  
Selasa, 7 Februari 2012
Komplotan Pencuri Brankas Ditangkap
Warta Kota/Dody Hasanuddin  
Dibaca : 242 kali     Komentar: 0

Semanggi, Wartakotalive.com

POLRESTA Depok berhasil membekuk komplotan spesialis pencurian brankas milik bank yang beroperasi di Jakarta Utara, Karawang, Bali, Solo, Boyolali, Tegal, Madiun, dan Kalimantan Timur. Ketiga pelaku yang dibekuk polisi adalah Jac (40), Rus (36), dan Yau (38).

Barang bukti yang diamankan adalah brankas dan CCTV (closed circuit television) milik Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), obeng, tiga unit monitor LCD, sepasang speaker aktif, dan sebuah proyektor.

Kapolresta Depok Kombes Mulyadi Kaharni kemarin menjelaskan, tertangkapnya tiga tersangka berawal dari penyelidikan kasus pencurian brankas dan harta benda milik PNJ senilai Rp 15 juta. Peristiwa pencurian itu terjadi pada 7 Oktober 2011.

Dalam penyelidikan itu, Satuan Reskrim Polresta Depok menangkap salah satu anggota komplotan tersebut berinisial Jac. Menurut Jac, teman-temannya berada di Gedung Biru, Kalimalang, Jatimulya, Bekasi. Sabtu (4/2) malam sekitar pukul 23.00, petugas bersama Jac menuju Gedung Biru. Di gedung biru itulah petugas menemukan HR (45), penjaga pintu gedung tersebut.

Dengan cepat petugas meminta HR menunjukan kamar-kamar anggota komplotan tersebut. Mulai dari lantai 2 hingga lantai 5 dan turun lagi ke lantai 1, HR bersama petugas pun mencari anggota komplotan Jac.

Dari pencarian hingga Minggu (5/2) pagi, petugas mendapatkan 12 orang. Namun, setelah dilakukan penyidikan hanya dua yang terbukti, yakni Rus dan Yau sehingga sisanya dilepaskan.

"Gedung itu merupakan base camp komplotan itu. Sehabis melakukan tindak kejahatan mereka mabuk-mabukan di gedung bekas arena biliar itu. Di tempat itu pula mereka membongkar brankas. Terakhir mereka beraksi di Serang sepekan lalu," ujarnya.

Tewas kelelahan

Kapolres menyatakan, HR, penjaga Gedung Biru yang diminta menunjukkan kamar anggota komplotan Jac diduga karena kelelahan akhirnya tewas. "Saat HR akan dibawa ke mobil petugas, baru berjalan tiga meter dia jatuh tersungkur ke aspal. Muka dan hidungnya membentur aspal dan berdarah. Karena tidak kuat berjalan HR dibopong ke mobil dan dibawa ke RS Polri Kramatjati. Setelah diperiksa, dokter menyatakan HR sudah meninggal. Perlu diketahui juga bahwa dari mulut HR tercium bau alkohol," tandasnya.

Menurut Mulyadi, untuk membuktikan HR tewas karena kekerasan atau kelelahan pihaknya masih menunggu hasil otopsi dari RS Polri Kramatjati. "Tiga hari hasilnya baru dapat diketahui. Saya juga siap dipanggil Komnas HAM untuk menjelaskan kasus ini," paparnya.

Sementara itu, Keluarga besar HR sudah menyiapkan liang lahat untuk pemakaman di TPU Jatimulya, Tambun, Kabupaten Bekasi. Sepasang nisan bertuliskan Hamid Rolobessy bin Safei disiapkan di dekat liang lahat itu. Belasan kerabat menunggu kedatangan jasad Hamid di lokasi TPU itu.

Yores Tuasamu (42), adik sepupu HR mengatakan tidak tahu apa masalah yang menyeret kakak sepupunya hingga ditangkap polisi, Sabtu (4/) malam lalu. Setahu dia, kakak sepupunya itu sehari-hari hanya sopir angkot 19 jurusan Jatimulya-Mutiara Gading-Terminal Bekasi.

Penangkapan oleh petugas Polresta Depok itu, kata Yores, dilakukan malam Minggu sekitar pukul 22.00 di Gedung Biru bekas PT Tongyang Indonesia. Namun, dia baru mendapat kabar meninggalnya HR pada Minggu (5/2) sore. Dia mengaku tak tahu pasti kapan dan di mana HR meninggal.

Sementara itu, sejumlah warga yang tergabung dalam Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM) mendatangi Polda Metro Jaya, Senin (6/2) siang. Mereka menuntut dan melaporkan petugas Polresta Depok menyusul tewasnya Hamid di tangan polisi.

Sejak Sabtu (4/2) malam, setelah sempat dibawa polisi ke sebuah villa di kawasan puncak bersama 12 orang temannya, jenasah HR sampai Senin kemarin masih terbaring di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur. Pihak keluarga belum tahu penyebab meninggalnya Hamid.

"Kami datang ke Polda untuk membuat laporan polisi menyusul kejadian yang dialami saudara kami, Sabtu malam lalu. Anak-anak ini ditangkap dan disangka melakukan pelanggaran. Padahal tidak ada sama sekali. Nah, dalam penangkapan itu, HR dikabarkan meninggal. Mayatnya sudah dua hari di RS Polri Kramatjati. Maka kami ingin minta kejelasan," ujar M Saleh Horela, Sekjen DPD FPMM Bekasi Raya, Senin (6/2) siang. (dod/chi/ded)
 

Share :                
A   A   A
Beri komentar :
Nama
Email
Komentar
Kode
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
 
CLOSE[X]