• Selamat Datang
 
  • Warta
  •   :  
Selasa, 7 Februari 2012
Pasukan Suriah Menyerang, 79 Orang Tewas
Aksi protes di Suriah - istimewa  
Dibaca : 119 kali     Komentar: 0

Damaskus, Wartakotalive.com

Serangan-serangan roket dan meriam terhadap kota-kota yang dilanda protes menewaskan setidaknya 79 warga sipil, kata para aktivis, sementara Washington menutup kedubesnya di Damaskus dan Inggris memanggil pulang dubesnya.

Dewan Nasional Suriah (SNC) mengatakan pasukan pemerintah itu mengepung Homs dengan tank-tank, Senin menjelang satu "ofensif besar" dan memperingatkan akan terjadi "genosida" di kota Suriah tengah itu.

Seperti dilansir Antara, kelompok hak asasi manusia Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah mengatakan sedikitnya 42 warga sipil di Homs saja tewas dalam satu hari pertumpahan darah dan memperingatkan jumlah korban tewas mungkin meningkat karena banyak puluhan orang yang cedera berada dalam kondisi kritis.

Media pemerintah memberitakan tiga tentara tewas dan mengatakan satu "kelompok teroris" meledakkan satu pipa minyak di Homs.

Militer juga menyerang daerah Zabadani dekat Damaskus dengan tembakan dari tank, menewaskan setidaknya sepuluh orang, kata Observatorium yang berpangkalan di Inggris itu.

Observatorium itu juga melaporkan jumlah warga sipil yang tewas di Rastan, Jula dan Qusair, semua kota itu di provinsi Homs, serta di Sarghaya, dekat Damaskus, di kota Aleppo dan di Idlib, Suriah barat laut.

Seorang penduduk Homs mengemukakan serangan terbaru itu dimulai setelah pukul 04.00 GMT (11.00 WIB) dengan tembakan-tembakan roket, mortir dan artileri.

Damaskus menyalahkan pertumpahan darah di Homs itu pada "geng-geng teroris" yang menggunakan mortir-mortir.

Aksi kekerasan itu terjadi saat negara-negara Barat berusaha mencari cara-cara baru untuk menghukum Damaskus di tengah-tengah kemarahan pada veto Rusia dan China terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB, Sabtu yang mengecam Suriah karena tindakannya terhadap para pemrotes 11 bulan itu.

Menlu AS Hillary Clinton menyebut veto itu satu "ejekan."

Juru bicara Gedung Putih Jay Carney memperingatkan sekutu-sekutu Suriah bahwa mendukung Presiden Bashar al-Assad adalah satu "taruhan yang kalah."

Deplu AS mengatakan AS menutup kedubesnya di Suriah dan menarik stafnya yang masih ada di misi itu setelah Damaskus menolak menjamin keamanan.

Para pejabat senior Deplu AS mengemukakan kepada stasiun televisi CNN bahwa dua karyawan kedubes itu meninggalkan Suriah pekan lalu dengan menggunakan pesawat dan 15 orang lainnya termasuk dubes Robert Ford melalui darat menuju Jordania Senin pagi.

Pemerintah Polandia akan memberikan pelayanan konsuler darurat kepada warga AS yang masih berada di Suriah.

Presiden AS Barack Obama menghindari berbicara soal intervensi militer dan berikrar akan menyelesaikan masalah itu melalui cara-cara diplomatik.

"Yang penting menyelesaikan masalah ini tanpa melalui intervensi militer dan saya kira itu mungkin dilakukan," katanya dalam wawancara dengan jaringan televisi NBC.

Inggris memanggil pulang dubesnya untuk Suriah "untuk konsultasi-konsultasi," kata Menlu William Hague kepada parlemen.

"Kami akan menggunakan saluran-saluran yang masih ada terhadap pemerintah Suriah untuk menegaskan kebencian kami terhadap aksi kekerasan yang tidak bisa diterima bagi dunia yang beradab," kata Hague.

Belgia juga memanggil pulang dubesnya dari Damaskus.

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy setelah pertemuan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan ia akan menelopon Presiden Rusia Dmitry Medvedev untuk membicarakan tanggapan internasional pada krisis itu.

Baik Perancis maupun Jerman, katanya tidak menyetujui "penghambatan" tindakan terhadap Suriah itu.

Rusia dan China menggunakan hak veto mereka, dengan Moskow mengecamnya reaksi kemarahan Barat itu sebagai "histeris."

Menlu Rusia Sergei Lavrov dan kepala Badan Intelijen Luar Negeri Mikhail Fradkov menurut rencana akan tiba di Damaskus, Selasa, sementara laporan-laporan mengatakan misi itu mungkin berusaha membujuk Bashar untuk mudur.

China menyeru kedua pihak yang terlibat konflik menghentikan aksi kekerasan yang telah menewaskan setidaknya 6.000 orang sejak Maret tahun lalu, kata para aktivis oposisi.

Sementara itu istri Bashar al-Assad kelahiran Inggris mengatakan presiden itu adalah presiden Suriah, bukan presiden satu kelompok Suriah, dan ibu negara itu mendukung perannya," kata surat kabar The Times yang mengutip pernyataan Asma al-Assad dalam satu surat elektronik yang dikirim melalui seorang perantara dari kantornya.
 

Share :                
A   A   A
Beri komentar :
Nama
Email
Komentar
Kode
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
 
CLOSE[X]