
London, Wartakotalive.com
Direktur Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati yang disebut sebagai "The 100 Most Powerful Women" oleh Fobes menyampaikan kuliah dihadapan 400 mahasiswa dari berbagai bangsa di ruang Teater Sheikh Zayed, New Academic Building, London School of Economi (LSE) London, Selasa (7/2).
Seperti dilansir Antara, Sri Mulyani Indrawati, dalam kuliah umum itu membahas topik "Crises and Revolutions: The Reshaping of International Development" dipandu Profesor Robert Wade dari LSE berhasil menarik perhatian mahasiswa LSE yang merupakan kampus bergengsi dan menghasilkan ekonom dunia.
Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris T.M Hamzah Thayeb dan mahasiswa Indonesia diantaranya M. Hadianto Wirajuda (Ian), staf Kementerian Luar Negeri, Kandidat Doktor Bidang Hubungan Internasional di London School Economi mengikuti kuliah yang berlangsung selama satu setengah jam itu.
Di awal kuliahnya, Sri Mulyani yang juga merupakan mantan menteri keuangan menceritakan mengenai berbagai kejadian yang dialami di Eropa dan juga di negara Arab yang disebut dengan Arab Spring dengan adanya peristiwa seorang pemuda yang melakukan aksi bakar diri yang berakibat terjadinya revolusi di mana- mana.
Adanya sapuan revolusi dan pemberontakan di seluruh dunia Arab yang disebutnya dengan Arab Spring yang membentuk kembali substansi dan praktik pembangunan internasional.
Sri Mulyani menyampaikan seluruh rangkaian peristiwa krisis dan revolusi yang terjadi di berbagai belahan dunia ini dan kemudian mengkaitkannya dengan kebutuhan untuk bagaimana menyeimbangkan pembangunan di dunia ini dengan sangat baik.
Sri Mulyani Indrawati, yang bergabung dengan Bank Dunia pada Juni 2010 bertanggung jawab untuk operasi Bank Dunia di Afrika, Asia Timur dan Pasifik, Eropa & Asia Tengah, Amerika Latin & Karibia, Timur Tengah & Afrika Utara dan Asia Selatan.
Sri Mulyani yang ditunjuk sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia itu bertugas mengawasi administrasi wakil presidensi dan fungsi lainnya, termasuk Presidensi Wakil Integritas, Sanksi Dewan Sekretariat dan Kantor Evaluasi dan Suspensi.
Sebelum bergabung dengan Kelompok Bank, Sri Mulyani menjabat sebagai Menteri Keuangan, pada saat ia dibimbing kebijakan ekonomi untuk salah satu negara terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara terbesar di dunia, navigasi dengan sukses di tengah-tengah krisis ekonomi global, melaksanakan reformasi kunci, dan mendapatkan rasa hormat dari teman-temannya di seluruh dunia.
Sri Mulyani Indrawati yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas sebelum menjabat sebagai Menteri Keuangan, posisi awal nya termasuk Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional juga pernah menjadi staf pengajar di Universitas Indonesia dan mengunjungi profesor di Sekolah muda Andrew Kebijakan Publik di Georgia State University.
Sri Mulyani yang meraih gelar PhD di bidang ekonomi dari University of Illinois dan gelar BA di bidang ekonomi dari Universitas Indonesia mendapat berbagai penghargaan diantaranya penghargaan dari Global Euromoney Magazine, dimana ia terpilih sebagai Menteri Keuangan of the Year, dan Emerging Markets Menteri Keuangan Terbaik di Asia dan masuk dalam Daftar Forbes 100 Wanita Paling Berpengaruh.
Sementara itu M. Hadianto Wirajuda, staf Kementerian Luar Negeri, Kandidat Doktor Bidang Hubungan Internasional, LSE mengatakan Sri Mulyani menjelaskan seluruh rangkaian peristiwa crisis dan revolusi yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Ia juga kemudian mengaitkannya dengan kebutuhan untuk bagaimana menyeimbangkan pembangunan di dunia ini dengan sangat baik, ujarnya.
Menurut Ian, Sri Mulyani secara gamblang memberikan penjelasan bagaimana institusi Bank Dunia merespon tuntutan good governance and transparency, ujar putra mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda itu.

