

Cilandak, Wartakotalive.com
Naiknya harga daging sapi hingga diatas harga normal kembali dikeluhkan. Para pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta meminta pemerintah menurunkan harga daging yang kini melonjak hingga di atas 50 persen.
Ketua Umum Hippi, Sarman Simanjorang, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (7/2) mengemukakan, saat ini harga daging sapi di pasaran wilayah DKI Jakarta mencapai Rp 80.000 per kilogram (kg). Padahal, harga normalnya hanya di kisaran Rp 60.000-Rp 65.000 per kg.
“Oleh karena itu kami mengimbau pemerintah segera mengambil langkah-langkah strategis agar harga daging sapi kembali normal,” kata Sarman Simanjorang dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Selasa (7/2).
Menurut Sarman, jika pemerintah tidak segara menyikapi kenaikan harga daging secara cepat, dampaknya akan jauh lebih buruk, terutama di kalangan pengusaha kecil dan menengah. Kelangkaan dan naiknya harga daging sapi untuk beberapa item dibutuhkan sebagai bahan baku pedagang daging dan pedagang bakso di Jakarta. “Ini akan berdampak serius kepada para pedagang bakso dan para pedagang yang menggunakan bahan baku daging. Tenaga kerja di sektor ini kan banyak,” kata Sarman.
Oleh karena itu, HIPPI DKI meminta pemerintah menjelaskan kepada publik soal kebutuhan daging di DKI Jakarta. Kalau tidak ada penjelasan maka kekurangan persediaan dan tingginya harga tidak akan bisa diatasi seperti selama ini.
Sermentara itu Ketua Bidang Peternakan Hippi DKI, Ahmad Hadi, mengatakan, selama ini pemerintah hanya melakukan sensus sapi namun tidak pernah melakukan sensus konsumsi daging di DKI Jakarta, apalagi di seluruh Indonesia. “Kami meminta pemerintah untuk melakukan sensus pedagang bakso, katering, warung kecil, industri olahan dan restoran di DKI Jakarta sehingga diketahui kebutuhan daging secara akurat,” tegas Hadi.
Selain itu HIPPI DKI juga meminta Kementerian Perekonomian segera melakukan koordinasi dengan kementerian terkait dengan Kementerian Pertanian, Perdagangan, Perindustrian, UMKM,Tenaga Kerja dan Pariwisata & Industri Kreatif agar dapat mengukur kebutuhan bahan baku, jumlah tenaga kerja yang terserap serta nilai ekonominya.
“Ini penting agar tercipta sinergi yang menghasilkan satu kebijakan nasional yang kondusif bagi industri terkait bahan baku daging sapi,” tegas Sarman. (wip)

