• Selamat Datang
 
  • :  
  • Sudut Kota
  •   :  
  • Denyut Kota
  •   :  
Rabu, 8 Februari 2012
Saya Kira Tinggal di Jakarta itu Enak....
Abdul Rosyid  
Dibaca : 416 kali     Komentar: 0

Palmerah, Wartakotalive.com

Perempuan berusia 30 tahun ini tampak sedih dan bingung. Sri Rahayu bersedih karena anak bungsunya yang masih berusia 23 hari, Muhammad Nurul Anam, harus tidur beratapkan jalan layang.

Sri khawatir dengan kondisi bayi laki-lakinya itu. Suara bising kendaraan yang lalu-lalang, ditambah udara yang panas dan kotor saat tengah hari, dirasa ibu empat anak ini sangat mengganggu Anam saat ingin tidur pulas. "Kalau malam, anginnya kencang. Anam kerap kedinginan," kata Sri sedih.

Sri adalah satu dari ratusan warga yang rumahnya di Kampung Pemulung di simpang Jalan Ahmad Yani dan Jalan Pemuda, ditertiban aparat Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur, Senin (6/2). Sedikitnya 200 bangunan semi permanen di lahan seluas 9.820 meterpersegi, itu langsung rata dengan tanah.

Perempuan asal Desa Rongkeyang, Comal, Pemalang, Jawa tengah, ini sudah sembilan bulan tinggal di Jakarta. Suaminya, Ali Mustofa (45), cerita Sri, ketika itu mengajak dia dan tiga anaknya meninggalkan kampung menuju ke Jakarta. "Waktu itu saya lagi hamil Anam," kata Sri.

Dirinya mengaku tidak tahu persis alasan suaminya bersikeras meninggalkan kampung halaman menuju Jakarta. "Saya menurut saja," kata Sri yang ketika itu belum bisa membayangkan bagaimana ia dan keluarganya tinggal di Jakarta.

Hingga akhirnya Sri harus menerima kenyataan bahwa ia dan keluarganya harus tinggal di perkampungan kumuh. Tidak hanya itu, suaminya pun hanya mengandalkan pekerjaannya sebagai pemulung karena sulitnya mencari pekerjaan di Jakarta. "Saya kira tinggal di Jakarta itu enak. Tahunya seperti ini," ungkap Sri.

Menerima kenyataan seperti ini, Sri tidak tahu bagaimana harus bersikap. Dua pilihan yang dihadapi Sri, pulang kampung atau tetap bertahan di Jakarta di kontrakan baru. Namun untuk bisa mendapatkan kontrakan baru, Sri masih ragu. "Kan penghasilan suami saya tidak besar dan tidak pasti," katanya.

Kini Sri dan ratusan warga lainnya memilih tinggal di kolong jalan layang Rawamangun, Jakarta timur. Kardus-kardus bekas pun menjadi pilihan untuk alas tidur mereka. Sementara, barang-barang milik mereka yang masih bisa diselamatkan, seperti lemari, rak piring, maupun barang-barang hasil memulung, masih ditumpuk berantakan.

Sumarno senasib dengan Sri. Pria berusia 61 tahun ini pun bingung. Sumarno bersama istri dan enam anaknya pun masih bertahan di kolong jalan layang. Sumarno yang pemulung mengaku akan kerepotan jika harus mencari kontrakan lagi. Rata-rata pendapatannmya dari memulung yang sebesar Rp 30.000, dirasa tidak bisa menutupi biaya kontrakan. "Boro-boro untuk kontrakan, untuk sehari-hari saja masih kurang," kata Sumarno.

Sumarno hanya bisa pasrah dengan keadaan yang dialami dan yang akan dihadapi. "Kalau memang harus digusur lagi, saya pasrah," ungkap Sumarno. (Budi Sam Law Malau)


 

Share :                
A   A   A
Beri komentar :
Nama
Email
Komentar
Kode
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
 
CLOSE[X]