• Selamat Datang
 
  • :  
  • Jalan-Jalan
  •   :  
  • Kuliner News
  •   :  
Minggu, 19 Februari 2012
Yuk, ke Restoran Puang Oca
Kepiting Papua Berdaging Tebal Bertekstur Lembut
 
Dibaca : 327 kali     Komentar: 0

Senayan, Wartakotalive.com

Menikmati hidangan Restoran Puang Oca dijamin akan membuat Anda ketagihan. Datang lagi dan datang lagi. Hidangan laut yang disajikan benar-benar menggoyang lidah. Seberapa pun besar porsinya, Anda bisa menghabiskannya.

Saat pertama kali melihat tampilan depan Restoran Puang Oca, orang langsung berpikir restoran itu menyajikan makanan khas Makassar. Pikiran itu tidak salah karena di papan nama restoran tertulis besar-besar "Puang Oca: Seafood Restaurant Khas Makassar."

Ternyata pikiran itu ada benarnya sedikit. Setelah saya melihat sajian di buku menu, hidangan yang ditawarkan restoran itu lebih nasional. Restoran Puang Oca memang menyediakan seafood. Dan, bahan makanan lautnya kebanyakan didatangkan langsung dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Siang itu, Ade Mulyani, juru bicara Restoran Puang Oca, berbaik hati menawarkan dua hidangan pembuka untuk saya cicipi bernama Tahu Puang Oca dan lumpia kepiting. Tahu Puang Oca, kata Ade, sangat digemari para pengunjung setia restorannya. Sambil menunggu hidangan pembuka tiba, Ade bercerita soal asal usul restoran tempatnya bekerja ini. Rupanya, restoran seafood ini berdiri pada 24 November 2011 atas inisiatif Komisaris Jenderal (Purn) Jusuf Manggabarani, yang sebelum pensiun sempat menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia.

"Nama Puang Oca itu sebenarnya nama kecil dari Bapak Jusuf Manggabarani. Beliau itu adalah inisiator pembentukan restoran ini. Karena Pak Jusuf yang menjadi inisiator, jadi nama Pak Jusuf yang kita buat menjadi nama restoran ini. Kata 'puang' itu adalah sebutan untuk keturunan ningratnya Bugis. Jadi, kalau keturunan kerajaan zaman dulu kan kalau di Jawa laki-laki dipanggil 'raden', kalau di Makassar 'puang'. Sedangkan 'Oca' itu nama kecilnya Pak Jusuf," tutur Ade di Restoran Puang Oca yang terletak di dalam kompleks Lapangan Tembak Senayan yang bersebelahan dengan Hotel Mulia itu, beberapa waktu lalu.

Menurut Ade, semasa hidupnya sang jenderal sangat hobi memancing. "Jadi beliau itu tahu persis mana ikan-ikan yang enak, ikan-ikan yang kualitasnya bagus. Dan karena laut Makassar itu masih bersih dan masih banyak jenis-jenis ikan, jadi beliau menghubungi sahabatnya, Pak Hura Kamadjaja, untuk mendirikan restoran ini. Ikan-ikannya juga semua didatangkan dari Makassar," kata Ade. Hura Kamadjaja pun setuju mendirikan Restoran Puang Oca sekaligus memiliki rumah makan itu.

Di tengah-tengah obrolan saya dan Ade, makan pembuka disajikan. Tampilan Tahu Puang Oca dan lumpia kepiting ini menarik. Tahu digoreng hingga berwarna keemasan dan di tengah-tengahnya dijejali udang kupas yang besar. Setelah mencoleknya dengan sambal asam-manis-pedas, saya pun menyantapnya. Hmm... Memang enak dan gurih sekali. Saya setuju, banyak orang menyukai Tahu Puang Oca.

Tekstur kulit tahu yang renyah dipadu dengan udang lembut dan manis (bukan amis, ya) terasa begitu nikmat di lidah. Jujur saja, saya belum pernah mencoba tahu udang seperti ini sebelumnya. Tapi percayalah, tahu ini sangat enak dan Anda patut mencobanya sekali-kali. Atau setelah mencobanya, Anda jadi berkali-kali menyantapnya.

Puas memasukkan beberapa potong Tahu Puang Oca ke dalam mulut, mata saya lalu tergoda dengan lumpia kepiting. Sama seperti tahu tadi, kulit lumpia ini digoreng hingga kemerahan yang pas. Setelah dipotong-potong, di dalamnya diisi bermacam sayuran yang telah ditumis terlebih dahulu. Dicampur dengan cincangan daging kepiting. Wah, rasanya memang enak. Tak heran lumpia ini menjadi salah satu kudapan favorit, sama seperti Tahu Puang Oca.

Saking sedapnya rasa lumpia kepiting dan Tahu Puang Oca, makanan itu telah lenyap dari piring saji. Saya sampai lupa kalau masih ada hidangan utama yang harus dicoba juga. Sebelumnya, Ade sudah menjanjikan akan menyajikan hidangan spesial restoran ini kepada saya.

Kepiting asal Papua

Hidangan utama yang disajikan benar-benar menggairahkan. Satu porsi besar kepiting saus padang diletakkan di atas meja. Tak sampai di situ, seporsi lacukang atau ikan kakak tua yang dimasak kukus juga ikut tersedia.

Melihat besarnya ukuran kepiting yang dimasak saus padang itu sebenarnya agak gentar juga. Entah bagaimana menghabiskan kepiting sebesar itu. Sementara, kalau bersisa sangat sayang. Kalau dibawa pulang terasa memalukan. Akhirnya, saya putuskan untuk mulai makan saja. Dengan bantuan alat pencapit, saya langsung merusak paha kepiting layaknya barbar. Wow, di dalamnya tersembunyi daging tebal yang warnanya kemerahan, tidak putih layaknya kepiting biasa.

Kepiting itu datang dari Papua. Kepiting papua, kata Ade, memang punya keistimewaan dibanding kepiting dari daerah lain. Warna dagingnya merah dan dagingnya tebal namun bertekstur lembut. Saya lalu coba memakannya bersama nasi. Wuih... Daging tebal yang lembut nan manis dengan bumbu saus padang istimewa memberi sensasi rasa indah. Entah bahasa saya salah atau tidak, namun begitulah perasaan saya saat menikmati kepiting ini.

Saking nikmatnya, beberapa waktu lamanya saya habiskan untuk menikmati nasi bersama kepiting saus padang saja. Setelah puas, saya lalu mencoba hidangan yang lain, lacukang steam. Penampilan Ikan lacukang khas Makassar yang dimasak dengan cara diuapkan ini lebih kalem dibanding hidangan lain. Tidak banyak warna dan corak yang terlihat. Setelah mencicipinya, dijamin Anda yang pecinta ikan akan tergoda menikmatinya. Rasa ikannya lembut dan manis serta sedikit asam dan asin. Rasanya seakan membuat perasaan tenang, tak berkecamuk seperti saat menyantap kepiting. Kuah ikan dicampur bersama nasi juga nikmat.

Untuk sayuran, satu porsi kangkung tumis bunga pepaya menjadi pilihan. Di sisi lain, meski terdapat menu minuman yang menarik, saya memilih air mineral sebagai teman makan. Pilihan ini yang paling bijak, karena bisa menetralisir berbagai rasa yang masuk ke mulut tanpa menghilangkan kekhasan rasa makanan. Meski begitu, Ade berjanji menyajikan minuman rahasia untuk saya nikmati sehabis makan.

Kangkung tumis bunga pepaya dapat giliran untuk disantap. Kangkung dan bunga pepaya beserta campuran sayuran lainnya dicincang lalu dimasak dengan rasa sedikit pedas. Rasanya top. Saya memang penyuka bunga pepaya. Seperti kata orang, rasa pahit bunga pepaya bisa menambah nafsu makan.

Saat saya mencicipi semua hidangan itu, saya pun menemukan cara terbaik untuk melumat semua makanan saya. Pertama saya mencampur nasi dengan kepiting dan menjejalinya ke dalam mulut. Setelah terasa nikmat, kangkung tumis bunga pepaya langsung turut masuk. Rasanya agak kontras, namun membuat saya tidak bosan menikmati hidangan yang jumlahnya banyak itu. Apalagi, setelah menyantap kepiting dan sayur dinetralisir dengan tekstur ikan lacukang yang lembut dan membuat perut tenang. Bagi saya, semua ini merupakan salah satu menu terbaik yang pernah saya nikmati. (m7)

Share :                
A   A   A
Beri komentar :
Nama
Email
Komentar
Kode
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
 
CLOSE[X]